caturnugraheni

nothing else matter

Sevnat, Si Anak Donat dari Timur Indonesia

sevnat

“Kuee…kue…kue..kue..!”, teriak Sevnat dengan aksen khas anak Timur.

“Beli donatnya dek… sini masuk.” ujar kami Tim K2N UI.

Akhirnya Sevnat masuk ke rumah Bapak Elias (Bapak Kades) sambil menjajakan donatnya. Kami sedikit berbincang dengannya, dan inilah kali pertama kami saling bertemu dan mengetahui namanya. Namanya unik, Abraham Sevnat. Pertamakalinya kami mengenal sosok anak kreatif yang punya cita-cita tinggi dan mempunyai latar belakang kehidupan yang cukup membuat kami bergidik merinding.

Sore itu saatnya anak-anak Desa Werwaru mengikuti program “Garuda-Garuda Kecil” yang dipimpin oleh Langit, teman kami dari Tim Pencerahan Hukum. Program ini dibuka dengan perkenalan baik dari kami maupun semua perserta yang datang ke Balai Desa Werwaru. Setelah itu Langit meminta semuanya berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketika Langit minta salah satu anak untuk memimpin lagu tersebut, ada seorang anak yang berdiri di belakang mengacungkan tangannya untuk maju mempimpin lagu. Suaranya melengking indah, “Saya mau Kakak Langit….” (masih dengan aksen khasnya yang unik). Kami terkagum-kagum dengan keberanian anak ini, ia tampak selalu ceria, aktif, dan murah senyum.

Perkenalan kami berlanjut seiring berjalannya waktu, semakin lama ia semakin menunjukkan keunikannya dan antusiasme untuk mengenal kami lebih dekat. Ia sering mendatangi rumah Bapak Elias sebagai basecamp kami setiap harinya. Terkadang ia mendekati kami dengan cara yang unik, saat kami rapat ataupun beristitrahat ia mengintip dari balik jendela dan mulai melemparkan gula-gula untuk kami. Kami hanya tertawa melihat tingkah lucu anak ini. Anehnya setiap kali disuruh masuk untuk ikut bergabung bersama kami, ia selalu menolak dengan lembut dan malu-malu,

Hari berjalan sewajarnya, dan Sevnat pun seperti biasa selalu menjajakan kue-kuenya setiap pagi dan sore. Ia selalu berkeliling Desa Werwaru tanpa lelah, tanpa malu, dan tanpa ragu, tujuannya hanyalah untuk membantu neneknya mencari penghasilan, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sekilas cerita, Sevnat tinggal di desa bersama nenek dan adiknya yang masih berumur 3 tahun. Sevnat sekarang duduk di bangku kelas 4 SD, ia jarang berlajar, waktunya hanya habis untuk membantu neneknya membuat kue donat kemudian menjajakannya, kalaupun ada waktu senggang ia hanya menghabiskannya untuk bermain ke padang bersama anak-anak. Nenek Sevnat sudah tua, Ayahnya bekerja di Sorong, dan Ibunya bekerja di Ambon. Ayah Ibu Sevnat tak pernah pulang ke Werwaru semenjak Sevnat kecil sampai sekarang. Ia sebenarnya mempunyai tiga orang saudara lagi, akan tetapi sewaktu kecil meninggal akibat menderita penyakit dan Ayah Ibunya tak mampu membelikan obat dan merawatnya di rumah sakit. Terlepas dari semua itu, Sevnat adalah anak yang tegar, ia juga tergolong cerdas karena dengan sifat pemalasnya untuk belajar ia masih mendapatkan peringkat ke-empat di kelasnya, luar biasa bukan? Ia juga bercita-cita tinggi, ia ingin menjadi Tentara, untuk membahagiakn nenek, adik, ayah, dan ibunya kelak meskipun sampai sekarang ayah dan ibunya tak pernah menjenguknya sama sekali.

Saai itu kami sebagian tim sedang mengunjungi Dusun Upunyor sehingga tak sedikitpun dapat mengetahui kondisi Desa Werwaru seharian penuh. Setelah kami kembali ke Desa Werwaru kami mendengar kabar dari teman-teman lain bahwa hari itu ada kejadian buruk yang menimpa Sevnat. Tim Pencerahan Hukum hari itu mengadakan program “menonton film”, program ini memang dikhususkan untuk kelas lima dan enam sehingga selain kelas tersebut tidak bisa mengikuti program ini. Sevnat sebagai anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang cukup besar waktu itu iseng mengintip dari balik jendela. Tiba-tiba ia dihajar oleh beberapa murid kelas 6 dengan alasan ia masih kelas 4 oleh karena itu ia tak boleh ikut menonton film. Mengetahui cerita tersebut saya langsung mengonfirmasikan hal ini, saya menemui Sevnat diam-diam dan menanyakan kronologis kejadian hari itu. Ia menceritakan sambil tersenyum renyah, tanpa ada rasa kecewa dan takut dalam bening matanya. Saya mengaguminya, bahkan saya yang menangis karena ia menyatakan bahwa teman-temannya sebenarnya tidak suka jika ia dekat-dekat dengan kami, ia diancam oleh teman-temannya sehingga mulai saat itu Ia janji tak akan dekat-dekat lagi dengan kami. Sontak saya bertanya dalam hati, apa yang salah dengan keadaan ini?

Sekitar sepuluh hari kemudian Sevnat tak pernah ikut berkumpul bersama kami, setahu saya pada suatu sore ia hanya mengantarkan 20 donat untuk kami dengan sembunyi-sembunyi. Namanya juga Sevnat, tidak afdol kalau tak memberi kami kejutan setiap saat, Ia hanya memberi tahu kami bahwa donatnya tidak usah dibayar, ia setiap hari mengumpulkan uang hasil pemberian neneknya dan setelah terkumpul ia bayarkan uang tersebut kepada neneknya karena dari awal ia berkeinginan untuk memberikan donat gratis untuk kami.

Lagi-lagi kami terharu dengan tingkah bocah ini. Ketika kami sedang sibuk mengemas keperluan hadiah perlombaan, tiba-tiba kami dengar teriakan dari balik pintu. “Kakak..kakak….ini uang siapa yang jatuh di belakang Balai Desa?”, teriaknya sambil memegang dua lembar uang pecahan ratusan ribu rupiah. Kami benar-benar mengagumi Sevnat, ia anak yang pintar, tulus, dan jujur sampai-sampai Bapak Elias mengatakan seperti ini, “Sevnat anak baik, ia jujur, pasti ia akan menjadi anak yang beruntung.”

Kami pun berharap semoga Sevnat benar-benar menjadi anak yang beruntung nantinya. Satu-satunya kenangan yang kami berikan untuknya hanya pesan bahwa ia harus rajin belajar, tetap jujur, selalu ceria, dan harus bisa menjadi pemimpin untuk adik dan keluarganya. Itulah hadiah dari kami, selain sepasang sepatu dari Fuad, dan sebuah lampu senter dari saya.

Yang kami ingat darinya hanyalah senyumnya yang selalu terkembang setiap saat, teriakan-teriakan jahilnya saat memandu kami untuk main-main ke padang rumput tiap sore, lengkingan indah saat ia menawarkan kue-kue ke seluruh penjuru desa, suaranya yang indah saat menyanyikan lagu-lagu gereja. Ahh…Sevnat memang teman yang menyenangkan, ia sangat baik, dan karena ia benar-benar tak ingin berpisah dengan kami, ia pun tak sanggup menemui kami sore itu, saat kami benar-benar akan kembali ke Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 13, 2013 by .
%d bloggers like this: