caturnugraheni

Pembelajar, Turun ke Lapangan, Berlayar, Berkelana, dan Berbakti untuk Kebaikan

Elegi Bersama Kota Belimbing

Sudah hampir empat tahun saya tinggal di kota ini, banyak hal yang saya dapatkan di sini. Ya…di Depok, Jawa Barat tepatnya, sebuah kota kecil yang sudah mulai menyusul pengapnya Jakarta. Depok sebagai sebuah kota yang terbilang baru tak pelak terhindar dari berbagai permasalahan sosial. Selama hampir empat tahun ini, saya mengalami berbagai macam gejolak perasaan, mulai dari gemasnya menyaksikan hiruk pikuk kemacetan, pesatnya pembangunan fisik tanpa diimbangi pembangunan non-fisik, maraknya pergaulan bebas, dan menjamurnya berbagai fenomena premanisasi dan “miskinisasi” (!!). Pada awalnya saya masih tak acuh dengan segala kondisi yang ada, saya hanya menjalani, dan saya hanya menyukurinya.

Semakin lama saya hidup di sini, pola pikir saya mulai berubah, mungkin karena beriringan dengan usia saya yang juga semakin dewasa secara hukum. Saya mulai memperhatikan lingkungan sekitar dengan seksama. Setiap pulang dari aktivitas kampus pun saya selalu mengamati apa-apa yang saya temui dan alami di selorong jalan yang menghubungkan antara kampus dan rumah kos. Keprihatinan muncul, saat sekitar 2 tahun lalu saya hanya menemui 2 sampai 3 “kaum peminta” yang duduk atau berdiri sepanjang gang senggol, lorong gang damai, gang becek gundar, dan gang kober. Tapi sekarang, di lorong barel saja bisa jadi saya temukan lebih dari 5 “kaum peminta”. Entah mengapa pekerjaan (-bukan profesi) ini semakin diminanti oleh masyarakat di Indonesia, mungkin karena pekerjaan itu tak membutuhkan banyak skill, usaha, dan biaya. Belum lagi kelatahan mereka yang biasa saya lihat. Seorang kakek tua yang biasa duduk di sepanjang gang becek Gunadarma biasa meletakkan 2 uang logam kuning pecahan seratus rupiah. Pertama saya melihat saya pikir memang itu pemberian dari orang yang lewat, tapi perhatian saya mulai memicing ketika setiap hari 2 uang logam kuning tersebut bertengger di mangkok sang kakek. Sempat saya berpikir bahwa itulah trik yang beliau lakukan agar mendapat simpati dari masyarakat, dan ya…sangat buruk pikiran saya waktu itu. Wallahua’lam…Tak cukup dengan berbagai pertanyaan yang muncul terkait 2 uang logam kuning tadi, pertanyaan kemudian muncul lagi ketika beberapa kali saya pergoki bapak itu merokok dengan nikmatnya sambil menyodorkan mangkok kecil warna merah muda itu. Hssssshhhhh,…. kalau sudah begini, saya hanya bisa menghela napas.

Waktu semakin bergulir, kesesakan tak kunjung sirna dari dada ini. Trotoar di Jalan Margonda makin terkikis, sering kali saat saya menyusuri pinggiran jalanan, saya harus berdebat dengan pengguna sepeda motor yang tak jarang spionnya menyenggol badan saya. Belum lagi tragedi Penyeberangan Margonda Residen yang cukup mengerikan waktu itu. Saya pernah tertabrak sepeda motor saat menyeberang, hanya satu orang yang mau menolong saya, dan si penabrak pun lari membiarkan saya terkolek lemah di atas aspal. Pernah juga saat saya pulang dari kampus malam hari, saya berjalan sendirian melewati gang Pancoran, apesnya saya telah dihadang oleh dua orang preman perempuan, di sana saya dipalak dan dimaki-maki. Mengerikan….sangat mengerikan saya pikir. Sebuah kota yang ramai dengan kesibukan dan keegoisan. Bau sampah tercium di setiap penjuru kota, sampah manusia pun bertebaran menyeramkan di mana-mana.

Inilah Depokku, mau tak mau saya harus mengakuinya sebagai sebuah zona yang harus saya cintai. Meskipun kadang hati saya tersayat perih, menyaksikan kakek tua yang sulit berjalan, terseok menjajakan pisang dan nangka di sepanjang Margonda. Kakek penjual celengan yang biasa membawa 2 keranjang besar celengan dari tanah liat, yang saya pikir itu sangat berat jika hanya dipikul sendirian. Belum lagi Kakek 80an dengan derita kataraknya, ia setia berjualan es potong “jaman dulu” di sekitar stasiun ui dan Pocin yang saya pikir dalam satu hari belum tentu ada yang membelinya. Sakit, benar-benar sakit, ketika tangan ini tak lagi mampu merangkul mereka. Saya bisa apa? saya belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

Ironisnya, dengan kondisi sosial budaya yang makin berdekadensi, pembangunan pusat perbelanjaan dan apartment merajalela. Sepertinya sang walikota sedang mengalami salah fokus. Pemberian izin prinsip dan izin lokasi dibebaskan, sementara “leading sector” yang digadang-gadang MDG’s justru dikesampingkan. Bahkan saya dengar bahwa Sekolah Master (Masjid Terminal) juga terancam digusur gegara di lokasi tersebut akan dibangun sebuah pusat perbelanjaan dan ekstensi terminal Depok baru. Ini kedengarannya sangat culas. Bayangkan saja, sekolah Master adalah satu-satunya pengharapan bagi rakyat tak mampu di Depok dan sekitarnya, mereka yang tadinya tak bisa sekolah jadi bisa sekolah dengan adanya Sekolah Master. Kalu begini caranya, Depok yang dulu disebut orang sebagai tempat jin buang anak pun akan berubah menjadi sebuah kota yang sama mengerikannya dengan Jakarta.

Depok, oh Depok.. terkadang saya bingung menghadapimu, untuk menghadapi yang kasat mata saja sulitnya setengah mati. Mengapa saya mesti juga menghadapi hal-hal yang tak kasat mata. Inilah akhir cerita dari elegi saya bersama kota ini. Baru 3,5 tahun tinggal di sini, sudah lima kali saya harus hidup nomaden (berpindah-pindah tempat kos). Ya… memang saya yang harus maklum, yang namanya makhluk halus, memang fitrahnya mengikuti manusia. Kita yang harus bijak menghadapi mereka. πŸ™‚ πŸ™‚

Advertisements

4 comments on “Elegi Bersama Kota Belimbing

  1. tantri
    February 19, 2014

    saya suka banget cara mbak menulis dan mengkritisi kondisi sekitar… πŸ™‚ memang seperti itulah geliat modernisasi sebuah kota yang hanya berjalan satu arah saja. modernisasi yang hanya mengikuti arus tanpa memperhatikan aspek2 lainnya. Pembangunan yg selalu berlanjut terus menerus seolah2 menjadi icon kesusksesan sebuah kota. Memang tampak elok dan megah sebuah kota dng jajaran “hutan beton” gedung pencakar langit, namun menjadi tidak elok dng adanya jurang pemisah status sosial. yg kaya akan semakin gaya, yang miskin akan semakin miris… untunglah Surabaya tidak (atau mungkin belum) terlalu kentara jurang pemisahnya.. yah.. begitulah dampak dari modernisasi dan teknologisasi yang cenderung latah… πŸ™‚

    • caturnugraheni
      February 19, 2014

      wah terimakasih banyak mba. ini cuma sedikit keluhan dari sekian banyak kekesalan atas tidak adilnya sistem pemerintahan ini. tapi itu tergantung pemimpin kok mba, kalau surabaya insyaaAllah oke, itu asalkan bu Risma ngga jadi mundur ya. Hehehe..

      • tantri
        February 20, 2014

        iya mbak.. sejak Surabaya “direparasi” oleh bu Risma, bnyk tmn2 sy yg visiting Surabaya mengakui kemajuan sby di bidang tata kotanya dalam kurun waktu yg singkat.. ayo mbak main ke Surabaya… ^^

      • caturnugraheni
        February 20, 2014

        iya mba, jujur baru sekali ke surabaya, dan saya langsung takjub hehe..bersihh..aku pengen main kesana lagi mba..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 25, 2013 by .
%d bloggers like this: