caturnugraheni

nothing else matter

Mereka Bukan Emas, Tapi Mereka Berkilauan (Sekarung Mutiara dari Istana Surgawi, Banyumanis, Donorojo, Jepara)

Sebelumnya izinkan aku mengucap ribuan syukur dan terimakasih kepada Allah SWT, kepada project team JWC 14 yang telah memberikan kesempatan untuk mengenal masyarakat desa Banyumanis. Kalau bukan karena JWC 14 aku tak akan pernah mengenal apa itu penyakit lepra. Kalau bukan karena JWC 14 aku tak akan pernah mengenal masyarakat Banyumanis yang sarat dengan pelajaran hidup. Kalau bukan karena JWC 14 aku tak akan pernah mengenal nikmatnya bersyukur dibalik keterbatasan. Dan kalau bukan karena JWC 14 aku tak akan pernah mengenal 28 tangan-tangan kecil yang rela menyingkir sejenak dari hiruk pikuk kampus sekedar untuk membagikan sedikit kebahagiaan yang mereka punya. Inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di sebuah desa surgawi. Mengapa surgawi? Karena di sana aku menemukan ribuan bahkan jutaan keajaiban yang tak pernah sekalipun aku temukan di kehidupanku, di dunia nyataku selama ini. Desa Banyumanis, bagian dari Kecamatan Donorojo, Jepara, Jawa Tengah, sebuah desa yang manis semanis arti namanya. Sekilas saat aku melintasi desa ini aku masih belum bisa mengambil suatu kesimpulan penting. Ya, karena aku masih harus memahami seisi desa ini lebih jauh dari berbagai sudut pandang. Setelah beberapa jam, bahkan beberapa hari, dalam geliatnya pendekatan yang aku dan tim JWC 14 lakukan, kejutan banyak aku dapati di sini. Inilah kali pertama aku melihat langsung suatu penyakit yang bernama kusta atau lepra. Sebuah penyakit yang punya nama sederhana, tapi ternyata berdampak luar biasa pada fisik dan sosial mereka. Kala itu sakit rasanya, saat melihat senyum-senyum manis dibalik tubuh yang tak lengkap jari-jari tangannya, jari-jari kakinya, bahkan seluruh kaki dan tangannya hilang. Aku benar-benar merasa beruntung bisa mengenal mereka. Aku senang bercengkrama seharian bersama mereka. Bahkan aku tak ingin rasanya jauh-jauh dari mereka, agar aku tak lupa bersyukur, agar aku tak lupa menundukkan kepalaku untuk sekedar berendah hati.

Kemuliaan Hati Pak Syamsul, Seorang bapak peradaban di Banyumanis, mengerti bagaimana harus menyelaraskan kehidupan bersama arus perkembangan zaman. Menginspirasi setiap orang yang beliau temui, meski keadaannya cukup terbatas, dengan jari-jari tangan yang (maaf) terlipat, dengan kaki yang tak berfungsi sempurna. Beliau yang setia mengenalkan paradigma untuk membuat Orang yang Pernah Menderita Kusta (OYPMK) ini merasa senang dan hidup. Sederhana saja, cukup gunakan 3S (Sapa, Senyum, Sentuh). Beliau menjelaskan bahwa  mereka (OYPMK) tak butuh pemberian materi dan kesenangan lainnya, mereka hanya butuh obat, dan obat itu adalah kehangatan dari kami semua para mahasiswa. Beliau juga menjelaskan bahwa Desa Banyumanis ini bukan kebun binatang yang menyediakan orang-orang aneh untuk dijadikan tontonan. Desa Banyumanis adalah sebuah desa pengharapan bagi mereka (OYPMK), harapan yang bisa mengantarkan mereka untuk hidup lebih laik dan dianggap ada, serta terbebas dari stigma negatif apapun itu. Beliau adalah sosok yang kuat dan tabah, senang untuk mempelajari hal-hal baru, dan beliau tak pernah merasa berbeda dari penciptaan manusia-manusia lainnya. Rasanya masih lekat di ingatanku, sosok sederhana Pak Syamsul yang setia membimbing dan mengarahkan kami saat “work” di depan Gereja Donorojo. Beliau tak pernah marah meski kadang keberadaan aku dan teman-teman tak jarang justru menghambat kerja Pak Syamsul dan kawan-kawan dalam menyingkirkan lumpur-lumpur dari jalanan aspal. Sepanjang “work” pun Pak Syamsul tak henti-hentinya memuji kami, kata beliau, kami ini luar biasa, mau saja hujan-hujanan dan kotor-kotoran padahal kami bisa tidur enak di guesthouse. Sempat juga beliau agak marah gegara kami tak mau saat diminta istirahat dan meneduh sejenak. Akan tetapi pada akhirnya beliau sangat senang dengan kerja kami. Belum lagi ketika aku, Aini, Nezha, Arif, Via, dan Kak Afif berkunjung ke rumah beliau, banyak sekali petuah bijak yang beliau berikan untuk kami. Ya, sangat banyak, di antaranya bahwa kami sebagai insan yang beriman jangan sampai mengalami fase keraguan akidah, kita harus bekerja sepenuh hati sesuai dengan passion masing-masing. Selain itu Pak Syamsul juga berpesan agar kami senantiasa berbakti kepada Ibu Bapak, JANGAN BERNAH MAU MENGABURKAN KEBENARAN. Intinya tunjukkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Ada Kesulitan di balik Kemudahan (Pelajaran dari Mbah Sukarti), pelajaran yang aku dapat dari seorang simbah totalitas. Namanya Mbah Sukarti, sebuah nama pendek yang berarti sukar atau sulit, karena dibalik kesulitan akan selalu ditemukan kemudahan. Akhirnya aku kembali menemukan keajaiban dari surah al-Insyirah ayat 5.Mbah Sukarti yang sewaktu muda sangatlah cantik, beliau harus rela keelokan tubuhnya menyusut karena penyakit lepra, dan pada akhirnya beliau harus keluar dari pekerjaannya. Inilah sosok paling semangat seantero penghuni ruang pasien inventaris Donorojo Leprosy Center. Sepanjang obrolan pun beliau tak luput dari senyum dan canda tawanya yang renyah menyenangkan. Dulunya beliau juga tak diterima oleh tetangga di sekitar rumahnya sampai akhirnya beliau memutuskan untuk berobat ke Semarang dan sampailah beliau di Dornorojo ini. Hidup dan kehidupan Ibu Sukarti sekarang lebih baik karena berada di antara orang-orang yang paham dan mengerti beliau. Anak dan cucunya juga senantiasa mengurus beliau. Mbah Sukarti sangat peduli terhadap sesama pasien di sekitarnya, beliau sangat toleransi. Meski beragama Kristen, beliau pun tak pernah enggan untuk membersihkan musholla yang letaknya tak jauh dari kamar beliau. Di balik tak utuhnya raga beliau, mengurus tetangga yang terbaring lemah setiap harinya, membersihkan sepanjang lorong ruangan inventaris pun bukan perkara sulit bagi beliau. Sedih ketika melihat sosok setulus Mbah Sukarti. Rasanya seperti tertampar ketika mendapati kemurahan hati Mbah Sukarti. Kala itu tiba-tiba Mbah membisikkan sesuatu kepadaku dan temanku Via, “Nak, seandainya Mbah kasih sesuatu untuk kalian, tapi ini barangnya tertutup kok, tidak terbuka, itu kalian mau terima atau tidak? Tapi kalian jangan marah ya, dan jangan dibuang”. Aku dan Via hanya bingung sambil tersenyum, “ada-ada saja Mabah Sukarti ini hehe..”. Aku sangat paham mengapa Mbah Sukarti katakan bahwa sesuatu tersebut tertutup (maksudnya di dalam kemasan), karena Mbah sangat khawatir kami tak mau memakan makanan yang sudah terpegang oleh mereka OYPMK. Padahal kami sama sekali tak pernah berpikiran demikian. Mbah Sukarti dengan ringannya menyodorkan satu kresek mie instan ternyata. Aku dan Via kaget, aku berusaha untuk mengembalikan sebagian, jumlah mie instannya terlalu banyak. Mbah Sukarti tetap ngotot memberikan semua sambil mengatakan bahwa beliau masih punya stok banyak, padahal pas saya paksa melihat stok di lemari, mie instan Mbah Sukarti hanya tinggal satu bungkus. Ya Allah, Mbah mengapa Mbah begitu dermawan dan baik kepada kami?

Ada Cerita (Lain) dari Sudut Rumah Ibu Sumber. Ibu sumber adalah sosok Ibu muda yang tak sengaja aku dan teman-teman temui. Kami menemui beliau saat beliau sedang bersantai di ruang tamu rumah beliau. Pertama kali berkenalan saja aku sudah menemukan sesuatu dalam diri beliau. Sebuah nama yang sangat bagus, karena sumber adalah asal muasal bermuaranya segala sesuatu, oleh karena itu Ibu Sumber ini memberikan sesuatu yang bisa kami ambil pelajaran. Beliau tinggal sendirian di rumah yang cukup besar, suaminya sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan beliau juga tak mempunyai seorang anak pun. Dengan kondisi beliau yang sebatang kara ini, beliau begitu semangat dalam memaknai hidup. Bu Sumber sangat ramah, sikap charming beliau membuat aku dan teman-teman makin betah untuk berlama-lama di sana. Tak henti-hentinya beliau memuji-muji kami dengan bahasa jawa beliau yang halus. “Aduh..aduh..nduk nduk, dene wong ayu-ayu ngene kok gelem reget-regetan neng pawon, halah.,halah” (Aduh..aduh nak, nak, kalian orang cantik-cantik kok ya mau-maunya kotor-kotoran di dapur Ibu, halah, halah). Ibu Sumber juga sempat mengatakan bahwa beliau tak pernah mengambil pusing atas kehidupan beliau yang serba sederhana ini. Beliau bersyukur masih punyai sebuah radio yang bertengger di dekat tempat tidurnya yang sangat bersih dan rapi. Membuat sapu lidi dari daun kelapa menjadi satu-satunya pengharapan hidup Ibu Sumber. Meski begitu, beliau tak pernah terlihat patah arang, beliau selalu tersenyum dan tersenyum. Tak terasa, kami sudah setengah hari di sana, sambil membantu beliau menyiangi sapu lidi dan membuat lontong tempe, kami sudah bercerita banyak hal. Inilah kisah-kisah indah yang juga kami dapatkan bersama Ibu Sumber. Intinya beliau mengajarkan, bahwa tak perlu menunggu kaya raya untuk bersyukur, dengan napas yang tiap harinya bisa kita hela, pun itu sangat patut untuk kita syukuri. BERDAMAILAH DENGAN HIDUP!

Keterbatasan bukan halangan untuk bersyukur dan beriman kepada Tuhan (Pelajaran dari Mbah Sunartinah dan Mbah Suwarno),

Mbah Sunartinah, seorang Mbah yang senantiasa senyum ceria. Pembicaraan yang mendalam bersama beliau membuatku mendapati semacam kamuflase perasaan. Beliau selalu tertawa riang, hanya cerita menyenangkan yang beliau paparkan. Akan tetapi, mata beliau tak bisa membohongiku, ada sedih dibalik binar matanya, ada sedu sedan dibalik keceriaan wajahnya. Sehingga pada suatu ketika beliau tak sengaja menceritakan kejadian di balik hilangnya jari-jari cantik beliau. Beliau tak lupa tersenyum di sela ceritanya bahwa dahulu setiap malam jari-jarinya selalu digigiti oleh tikus-tikus jahannam. Beliau adalah seorang muslim yang baik, radio mutiara adalah teman sejatinya sepanjang hari, bangun dini hari untuk shalat tahajjud tak pernah beliau tinggalkan. Beliau juga sangat suka menulis, bayangkan saja keadaan beliau yang maaf tidak mempunyai jari-jari tangan, tapi beliau masih berusaha untuk menulis, apapun beliau tulis meski sekedar nomor telepon radio muslim. Sungguh, tak kuat rasanya dada ini menahan sesak, namun apa boleh buat? Tak bijak rasanya jika aku harus menanis di hadapan beliau. Besitan-besitan kebahagiaan tulus yang beliau pancarkan telah memberiku makna tentang cinta, tentang nasib, tentang iman, dan indahnya penciptaan. Sementara di ujung Bangsal Merak, aku sempat menghampiri Mbah Suwarno. Seorang Mbah tampan yang lembut, beliau (maaf) tanpa kedua kaki dan dengan jari-jari terlipat. Sudah dua kali beliau menikah, malangnya beliau diceraikan oleh kedua isterinya itu karena penyakit kustanya. Entah apa yang ada di benak sang isteri kala itu. Tak ada keluarga yang setia menjenguk Mbah Suwarno, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar pun tak sempat. Sedih sekali ketika melihat seorang Mbah renta sebatang kara, terkulai lemah tanpa cinta dari keluarga setiap harinya. Meski demikian, tak pernah ada penyesalan dalam hidup beliau, karena kecacatan bukanlah penghalang kebahagiaan beliau. Sekarang beliau telah memiliki keluarga baru di Bangsal Merak, Keluarga yang saling memberikan kekuatan. Ada Mbah Mikan, Ada Mbah Wardi, dan lain-lain. Aku sempat menemukan sebuah tulisan yang menggelitik hati, cukup membuat mata ini perih menahan tangis. Tepat di depan pintu lemari beliau tertuliskan “KAMI HINA TAPI KAMI MULIA”.

Mbah Yasmi dan Mbah Pandi, Semoga Bahagia Akan Menjadi Akhir Hidup Mbah… Lagi, aku menemukan sebuah fenomena perjuangan hidup keluarga kecil yang sangat lengkap. Ini nyata, benar-benar nyata, bukan sebuah reality show yang tak jarang sudah dilebih-lebihkan jalan ceritanya. Dua orang yang sudah berusia senja hidup tanpa keluarga yang masih kuat dan saling menguatkan.  Mbah Yasmi dengan fisik yang (maaf) tak sempurna, terlebih Mbah Pandi,  beliau kehilangan kaki dan tangannya. Sesungguhnya mereka mempunyai seorang anak, akan tetapi kepergiannya untuk mencari nafkah ke Malaysia tak lantas membuat mereka bahagia. Sadar ataupun tidak, bukan materi semata yang membuat manusia bahagia, melainkan kasih sayang dan kebersediaan untuk senantiasa menemani orang terkasih sepanjang masa. Sekalipun mereka punya menantu, toh menantunya tak pernah menjenguk mereka, hanya sawah yang membuat menantunya setia datang ke Banyumanis, bukan mereka, sama sekali bukan mereka. Ironis, mbah Yasmi dan Mbah Pandi hanya hidup di atas sepetak tanah kurang lebih lima kali lima meter persegi, ruangan kosong tanpa kenikmatan ragawi. Jangankan benda elektronik, jam dinding pun tak sudi menempel di dinding rumahnya. Mereka hidup seadanya, di dalam ruangan yang sedikit pengap lengkap dengan nasi basi berserakan untuk dimakan ayam-ayam mereka. Kalau Allah mengizinkan aku untuk memeluk erat mereka lebih lama, aku akan peluk mereka, semau mereka, aku akan lakukan apa yang mereka minta. Tapi aku bisa apa? Aku belum bisa berbuat sedikitpun, bahkan sekedar mengangkat mereka untuk tersenyum ke luar rumah pun aku tak bisa. Terlepas dari semua itu, aku masih sangat yakin, Allah tak membiarkan hambanya bersebih, karena Robbi, La Tadzarnii… Lagi, aku temukan kebahagiaan nyata dalam bening mata mereka, tak pernah menyesali hidup. Hanya berjalan setia di atas takdir yang sudah tersurat di atas kertas kehidupan. Akhirnya aku hanya berdoa, semoga kebahagiaan yang akan menjadi akhir masa tua mereka.

Tersimpan Berjuta Harapan di Balik Binar Mata Mereka… Sesungguhnya, masih sangat banyak kisah menginspirasi yang aku dapatkan dari desa surgawi ini, akan tetapi sepertinya kertas ini tak akan cukup menampung semuanya. Seluruh penduduk LIPOSOS, Desa Rehabilitasi Sumber Telu, penduduk Donorojo Leprosy Center, semuanya memberiku arti keimanan dan kesyukuran. Ada Mak Prihatin, ada Pak Suroso, ada Pak Sarwan, ada Pak Karim, ada Pak Joyo, ada Mbah Wardi, ada Mbah Mikan, ada Bu Saudah, ada Bu Kartini, ada Supri, dan semuanya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga suatu saat aku dan mereka kembali dipertemukan, di manapun dan kapanpun itu, dalam keadaan yang lebih baik tentunya. Mereka telah menjadi guru kehidupan yang hebat. Di balik keterbatasan mereka, mereka punya semangat hidup yang luar biasa. Mereka Ibu, bapak, Mbah,  kakak, dan adik yang tak sudi menyalahkan takdir dari Tuhan atas hidup mereka. Mereka menapaki hidup dengan keikhlasan dan ketulusan. Ada kilauan tak terbatas di atas wajah-wajah mereka, meski mereka bukan emas. Ini semacam fase titik balik hidupku yang tegak lurus. Sekembalinya aku dari desa bersurga ini, tak ada lagi alasanku untuk lemah, tak bersyukur, mengingkari hidup, apalagi berkeluh kesah. Sungguh tak pantas jika di balik kelebihan, kekuatan, dan kemampuanku ini aku masih sama dengan kemarin.

Akhirnya Desa Banyumanis yang eksotis dengan deburan ombak yang menderu mengharu biru, dengan relief yang yang tak terlalu menyusahkan, menjadi teman setia aku dan tim JWC 14 selama dua belas hari. Tak terasa, aku harus pulang, kembali ke peraduan, kembali kepada kerasnya hidup yang terkadang mampu menggetaskan akal sehat. Dan saat aku pulang, pun aku masih melihat mereka, seperti tak rela. Ada yang berkaca-kaca merapalkan doa perpisahan, ada yang tersedu sambil memeluk di antara kami, ada yang diam terpaku karena sakit menyaksikan perpisahan ini, ada pula yang benar-benar tak mau bertemu dengan kami oleh karena tak ingin menunjukkan tangisnya. Ingin rasanya tangan ini terulur lebih panjang untuk mereka. Ingin rasanya dada ini terkembang lebih luas untuk mereka. Ingin rasanya lidah ini merapal doa lebih lama bersama mereka. Ingin rasanya kaki ini melangkah lebih panjang bersama mereka. Ingin rasanya mata ini tenggelam lebih dalam bersama harapan dan mimpi-mimpi mereka akan kebahagian.  Tapi apa boleh buat? Aku dan mereka harus berpisah, meski hanya untuk sementara waktu

DSCN6995

. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 8, 2014 by .
%d bloggers like this: