caturnugraheni

nothing else matter

Salam Cinta dari Pantai Tu’u, untuk Sobori Manise dan untuk Cinta yang Tak Sampai

DSCN0520

Nunu namanya, seorang pemudi petualang yang ulung. Ia duduk di semester akhir di sebuah universitas terkemuka di Jakarta. Kegemarannya dengan dunia sosial dan budaya telah mengantarkannya ke sebuah pertemuan hebat dengan aspek-aspek etnik yang tak terlupakan. Orangnya sederhana, lincah, murah senyum, kuat, dan sedikit keras kepala. Menurutnya, hidup adalah tentang pengolahan dan pembagian rasa. Bukan Nunu namanya jika hidupnya hanya diisi dengan hura-hura dan pesta, berbelanja ke mall, mengikuti trend fashion terbaru. Baginya, hidup bersama orang-orang baru yang jalan pikirannya belum terkontaminasi modernisasi dan westernisasi itu merupakan seni untuk hidupnya.
~
Abraham Sobori. Tubuhnya tak terlalu kecil, sewajarnya anak berusia 10 tahun. Ia tinggal di sebuah pulau terpencil di ujung Barat Daya Kepulauan Maluku. Di Desa Werwaru, Pulau Moa, Provinsi Maluku tepatnya. Ia hidup bersama adik perempuan dan neneknya. Usia neneknya belum terlalu senja, masih kuat. Kegiatan sehari-harinya adalah berjualan kue donat. Sobori, ditinggal ayah ibunya sejak usianya sangat kecil. Tempat tinggalnya sangat sederhana, berupa gubug kecil, terbuat dari kayu dengan atap daun rumbia.
~
Di pertengahan tahun 2013, Nunu berkunjung ke Pulau Moa. Berkat keuletannya menekuni dunia pengembangan komunitas di kampusnya. Ia mendapat kesempatan untuk tinggal dan mengabdi selama beberapa bulan di Pulau Moa, kesempatan itulah yang mempertemukannya dengan kearifan lokal masyarakat adat Desa Werwaru, dan juga Sobori si pahlawan kecil.
Bagi Nunu, Pulau Moa adalah pulau impiannya selama ini. Ia selalu bermimpi untuk tinggal di Indonesia bagian timur, menikmati alamnya yang indah. Nunu, adalah pemudi penyuka pantai, penikmat pasir putih, sahabat camar, dan pecinta desir ombak yang tenang.
Perjalanan Nunu ke Pulau Moa tak terlalu berat. Bagaimanapun juga, Nunu semakin mencintai negeri ini, negeri yang begitu baik. Nunu mendapatkan tumpangan pesawat hercules dan kapal perang TNI dengan gratis. Waktu penjelajahannya sampai ke Pulau Moa pun tak terlalu lama, hanya empat hari.
Nunu menikmati keindahan Laut Banda, sangat menikmati. Kebetulan, saat itu gelombang tak terlalu tinggi. Di bulan-bulan seperti November, dan Desember, gelombang di sana bisa mencapai enam meter. Terlebih jika ia melintasi Laut Timor. Tebayang, hidup di atas laut berhari-hari, tanpa ada kapal lain. Jika beruntung, ia dapat menemui kapal perintis dari Kupang, dan itu hanya terjadi beberapa minggu sekali.
~
Setelah berhari-hari terombang-ambing di kapal, akhirnya ia sampai di Pulau Moa. Benaknya langsung melayang-layang dengan liar. Tak sabar ia ingin menikmati alam Pulau Moa ini dengan kawan-kawan barunya, berselancar dengan perahu-perahu kecil yang ada. Menanjak gunung-gunung karang yang menyelimuti Pantai Tiakur sebagai pantai selamat datang di Pulau itu. Pandangan pertamanya tertuju pada ombak pantai Tiakur yang tenang melegakan. Air pantainya biru toska kehijauan, semakin tua ke tengah. Burung-burung camar berkeliaran di atas ubun-ubunnya. Anggrek-anggrek karang bergelantungan di ujung bawah karang pantai. Karang-karang itu seperti menggantung di udara, karena kaki karang yang menapak ke laut jauh ada di dalam, tak tampak oleh mata. Sungguh, suatu kenampakan surgawi, membuat Nunu bertekad untuk berlama-lama di sana.
~
Nunu tinggal dengan Bapak Desa. Papa Elias namanya, ontua sangat sederhana, baik, dan lemah lembut budi bahasanya. Papa Elias adalah seorang penyembah yang baik. Tiap kali tiba waktu ibadah, ontua selalu mengingatkan Nunu.

~

Satu saat Nunu bertemu dengan anak laki-laki kecil dengan rambut keriting halus, kulit coklat tua, tubuhnya tak terlalu gemuk, namun senyumnya lebar menawan. Saat itu, ia hendak ke padang rumput (padang), bermain bersama teman-temannya. Ia berbeda dengan anak-anak seusianya yang lain. Sangat berbeda, ada manner yang sepertinya sudah melekat pada dirinya.
“Hai Kakak, kenalkan Kak, namaku Sobori, aku senang bertemu dengan Kakak” Tanya Sobori penuh keceriaan dan senyum yang teramat renyah.
“Halo Sobori, aku Nunu, senang juga bertemu kamu nak… mau kemana kamu sayang?” Tanya Nunu penasaran.
“Aku mau ke padang kak, ikut kawan menggembala kerbau sebentar, sambil main-main di kubangan, kakak mau ikut kah?”
“Waahh..menyenangkan sekali nak, tapi sayangnya Kakak masih ada kerjaan, nanti kapan-kapan ya Kakak ikut kamu menggembala kerbau.” Kata Nunu sambil minta izin untuk melanjutkan perjalanan keliling desa.
“Baik Kakak, aku pergi dulu ya.”

~

Perkenalan Nunu berlanjut, Sobori sesekali mengikuti Nunu saat Nunu bekerja untuk warga. Sobori tak lupa menunjukkan kepeduliannya pada Nunu, ia setia memberi Nunu gula-gula. Terkadang ia juga memberi Nunu donat gratis.
Sebenarnya tak hanya Sobori dan neneknya yang berjualan kue donat. Hampir di seluruh Desa Werwaru, masyarakatnya berjualan kue donat secara bergantian. Ada satu kelompok ibu-ibu yang menjalankan program pengembangan ekonomi. Modal yang mereka punya diputar dengan cara berjualan kue bergiliran setiap pagi dan sore. Cara-cara itulah yang dapat meningkatkan taraf hidup mayarakat Werwaru, Pulau Moa. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa bertahan hidup, daerahnya tak cukup subur, sehingga bercocok tanam bukan suatu hal yang sangat mudah bagi warga di sana.
~
Mama Elen dan Papa Abraham tinggal di Sorong, Papua. Mereka bekerja sebagai buruh tambang emas di sebuah perusahaan multinasional. Mereka berdua tak pernah sekalipun pulang ke kampung halamannya. Tak ada yang tahu keberadaan mereka, mereka pergi memang tanpa prakata bermakna. Sehingga, keberadaan mereka pun sebenarnya tak diharapkan lagi oleh keluarga. Sepertinya masih sangat lekat diingatan, bahwa Sobori sangat merindukan kedatangan kedua orang itu. Dan Sobori pun pasti lupa bagaimana ia merasakan kasih sayang kedua orang itu, Mama Elen dan Papa Abraham.
Sesungguhnya, disinilah Sobori harus tahu. Selama itu, kepergian mereka tanpa kabar itu hanyalah untuk kebahagiaan Sobori dan keluarga ke depannya. Tak ada niatan lain. Yang lebih menyakitkan bagi keduanya adalah melihat keluarganya menderita. Sejak Sobori dan adiknya lahir, kondisi keluarga mereka makin terpuruk. Tak ada hasil alam yang dapat mereka andalkan untuk hidup. Oleh karena itu, keduanya memutuskan untuk merantau dan tidak memberi kabar. Mengapa begitu? Mereka hanya ingin menanamkan ketegaran bagi Sobori dan adiknya. Mereka ingin Sobori dan adiknya menjadi anak yang kuat dan mandiri. Mereka ingin kedua anak tak berdosa itu benar-benar membencinya. Bagaimana mungkin seorang ayah ibu ingin dibenci oleh anaknya? Tapi ada hal yang jauh lebih penting dan tak perlu orang lain tahu. Hal itulah yang menjadikan Sobori begitu terlunta-lunta di desa.
~
Hari itu Nunu telah selesai bekerja untuk warga. Nunu mewujudkan keinginannya bermain bersama Sobori. Mereka berdua sengaja pergi agak siang, agar mereka tak dikejar hujan. Pantai Tu’u, sebuah pantai surgawi yang belum pernah Nunu lihat seumur hidupnya. Ia merasa telah dilahirkan di sebuah surga tak terduga. Nyiur melambai-lambai dengan zig-zag, ada juga yang lurus rapih, liukannya mengikuti alunan angin. Suaranya gemerisik, dedaunan bergesekan dengan udara yang kering dan sejuk. Pemandangan landscape di sekitaran pantai juga membuat matanya enggan berkedip. Karang-karangnya tampak lembut, putih bersih tak bernoda. Lengkap dengan serpihan-serpihan bangkai kerang beraneka warna. Ada juga bintang laut dengan berbagai jenis spesies merambat ke darat seiring pergerakan ombak yang kalem menyentuh pasir yang putih kemerahan. Percayalah, pantai ini benar-benar masih perawan, belum banyak orang di luar Pulau Moa yang tahu keberadaannya. Di ujung barat, terdapat muara sungai yang airnya seperti kaca. Di tepi sungai tumbuh rerimbunan pohon sejenis cemara, memanjang sampai ke hulu sungai yakni di Gunung kerbau. Pantai itu menjadi semacam pantai pribadi Nunu dan Sobori.
Nunu memberikan sebuah wejangan sederhana untuk Sobori. Tak banyak, hanya berupa pesan agar Sobori selalu semangat. Ia tak boleh bersedih, harus rajin belajar, semangat menggapai cita-citanya untuk bersekolah di kota dan menjadi tentara. Sobori juga bercerita tentang keluh kesahnya selama ini, tentang omelan-omelan neneknya jika Sobori tak mau membantu neneknya bekerja. Tentang kerinduannya terhadap mama papanya. Tentang kejahilan kawan-kawannya di kelas. Tentang kemarahannya karena ia tak diberi kesempatan untuk berpendapat di kelas. Tentang kesakitannya saat dipukul dengan sebilah bambu oleh gurunya jika ia sedikit usil. Nunu prihatin di sana. Memang, arus informasi itu sangat mempengaruhi peradaban. Di Pulau Moa ini, akses informasi sangat terbatas. Hal tersebut membuat kehidupan masyarakat begitu terkungkung dan kolot. Akhirnya, Nunu hanya bisa menghibur Sobori, sambil menepuk-nepuk bahu Sobori yang kecil dan kuat.
“Sobori sayang, Kakak kagum dengan semangat dan kerja keras Sobori. Sobori anak yang baik dan pintar. Kakak yakin Sobori nanti akan menjadi anak yang sukses.” Nunu mulai merapal harapan sambil berkaca-kaca. Bagaimana mungkin, anak sekecil itu sudah harus memikirikan beban berat keluarga.
“Iya Kak, Sobori senang sekali bisa bertemu dengan Kakak. Sobori tahu sekarang, mimpi Sobori akan terus Sobori jaga. Sobori ingin sukses Kak.” Ujar Sobori sambil menunduk, badannya tertopang oleh pohon nyiur yang muda.
“Sobori, Kakak janji untuk selalu menemani Sobori selama di sini. Sobori tak perlu takut untuk bercerita jika Sobori memang butuh. Kakak akan selalu ada untuk Sobori.” Nunu kembali menatap lekat anak itu.
“Kakak, Sobori sedih…. Sobori benci suasana seperti ini. Sebentar lagi pasti Kakak pulang ke Jawa, dan Sobori akan sendiri lagi.” Sobori sedikit meratap.
“Hei.. Nak, apa-apaan kamu ini, jangan sedih begitu. Jelek tau? Kakak tetap jadi teman Sobori, sampai kapanpun, kan Sobori masih bisa berkirim surat, atau bisa juga meminjam telepon Papa Elias. Nanti bisa Sobori telepon kalau Kakak sudah di Jawa.” Nunu berusaha menghibur.
“Kak, Sobori tak ada sedih lagi. Mulai sekarang Sobori akan semangat, Sobori punya mimpi untuk sekolah di kota, apapun itu. Sobori percaya nanti Sobori bisa Kak.” Sobori bangkit dari tempat duduknya. Berjalan pelan ke arah sungai.
Nunu mengejar Sobori. Mereka tertawa bersama, sambil bermain-main air sungai yang bersih. Tak lupa Nunu mengambil gambar, tak ingin menyiakan suasana paling menyenangkan bersama Sobori ini.
Matahari mulai menjauh dari kepala mereka, sudah condong ke barat. Nampaknya senja mulai datang. Tak terasa, mereka duduk sudah terlalu lama. Sampai-sampai terik tak terasa lagi, dan camar-camar pun berlarian ke hulu pantai. Mereka memutuskan untuk pulang, menyusuri badan sungai, yang nantinya akan tembus ke padang rumput, kemudian ke kebun singkong, dan sampailah ke desa.
~
Dua minggu kemudian, Nunu memutuskan untuk menghubungi sahabatnya di Jakarta. Nunu berjalan agak jauh ke bukit. Di rumah kecil, tempat orang-orang desa mencari sinyal telepon. Hanya di tempat itu orang-orang bisa melepas rindu dengan orang-orang di luar pulau. Nunu mulai mengetik satu-persatu nomor sahabatnya itu. Adhi namanya, ia seorang guru matematika di sebuah sekolah dasar swasta ternama di Jakarta. Beruntung sekali, berkat keaktifannya di dunia sosial, Nunu mempunyai banyak kolega, mulai dari orang-orang biasa sampai orang-orang yang sangat berpengaruh di berbagai isntansi LSM bahkan pemerintahan. Nunu sengaja minta Adhi untuk menanyakan ke kepala sekolah, apakah mungkin sekolah tersebut memberikan satu beasiswa untuk anak kurang mampu dari pelosok negeri. Adhi menjanjikan jawaban untuk tiga hari kedepan, ia akan menegosiasikannya bersama kepala sekolah. Beruntung juga Nunu mempunyai sahabat sehebat Adhi. Adhi adalah seorang guru yang sangat berprestasi, pandai bernegosiasi, dan mempunyai kepekaan sosial yang sangat tinggi.
Nunu kembali ke rumah Papa Elias. Ia pulang dengan menanti jawaban terbaik dari sahabatnya itu. Sesampainya di rumah, Papa Elias sudah menunggunya. Ontua ingin mendiskusikan sesuatu tentang desa Werwaru. Rencananya, Papa Elias bersama sekretarisnya Mama Eci akan mengadakan suatu pelatihan ekonomi kreatif berupa pelatihan tenun dan pembekalan materi. Nunu menyambut baik, ia membantu pembuatan proposal untuk dinas terkait serta memberikan bantuan konten dan teknis lainnya.
~
Hari itu Nunu bertugas mengunjungi dusun sebelah, untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan bersama beberapa kawannya, Grace, Aisyah, Aziz, dan Bayu. Dusun Upunyor namanya. Dusun in tak kalah eksotis. Warga menyebutnya dengan Bumi Cempawan, karena dusun Unpunyor merupakan dusun paling bersih dan indah. Ada pantai Tempawna yang terkesan ganas dan misterius namun sangat menawan. Ombaknya sangat kencang tapi tak pernah sampai ke darat. Di bahwah tangga desa, ada barisan batu karang yang senantiasa memagari pantai agar halaman dusun tetap aman.
~
Malamnya, Nunu dan kawan-kawan kembali ke Desa Werwaru. Ada kabar menyedihkan dari Ester dan Nesia, teman Sobori. Hari itu Sobori tak berani keluar rumah. Kata mereka, Sobori sempat dihajar oleh beberapa teman kakak kelasnya. Hal ini spontan membuat Nunu sangat kaget. Ia datang ke rumah Sobori dengan sembunyi-sembunyi. Tampak Sobori sedang duduk memangku adiknya, sambil makan beberapa potong singkong yang terletak di meja reot. Nunu berusaha meminta penjelasan tentang hal yang sebenarnya terjadi pada Sobori hari itu.
Akhirnya Sobori menceritakan hal yang sebenranya terjadi. Beberapa kakak kelas Sobori, termasuk Fandi dan Noel sangat tidak suka melihat Sobori dekat-dekat dengan Nunu. Mereka semua iri katanya, dengan kedekatan Sobori, Nunu jadi kurang peduli dengan anak lain.
“Ya Tuhan…jadi itu alasannya, Nak.. maafkan Kakak ya, gara-gara Kakak, kamu jadi dimusuhi oleh teman-temanmu.” Nunu meminta maaf dengan penuh penyesalan.
“Tak apa kak, Kakak tidak salah kok. Sobori yang salah karena terlalu ingin dekat dengan Kakak. Mulai besok kita jangan terlalu dekat ya Kak.” Pinta Sobori penuh harap.
“Baiklah nak, Kakak akan belajar untuk adil dengan mereka semua. Padahal, kamu harus tahu, ada hal lain yang membuatmu beda dengan mereka.”
“Sudah Kak, Kakak harus pulang sekarang, Sobori tak mau ada teman yang tahu, nanti mereka makin marah sama Kakak ataupun Sobori.”
“Baiklah nak..Kaka pulang, kamu jangan sedih ya. Semua akan baik-baik saja”
~
Hari itu Nunu kembali ke bukit untuk mencari sinyal telepon. Kali ini ia ditemai oleh Grace. Nunu menanti jawaban dari sahabatnya Adhi tetang rencananya pemberian beasiswa untuk Sobori.
“Halo.. Adhi, jadi gimana? Apakah Kepala Sekolah menyetujui rencana kita tentang beasiswa itu?”
“Iya, Nunu.. jadi begini, sebenarnya Kepala Sekolah agak keberatan karena hal ini harus melibatkan kerja sama dengan pemerintah daerah tempat tinggal Sobori, tapi aku berusaha meyakinkan beliau. Dan aku yakinkan bahwa kamu akan bisa menyelesaikannya.” Tandas Adhi penuh harap dan keyakinan.
“Wah, ini bukan perkara sulit. Aku akan segera ke kabupaten. Aku akan bicarakan ini dengan Bapak Falirat, Asisten Departemen Tiga. Aku sudah sangat mengenalnya. Aku yakin ini semua akan berhasil.”
“Nu.. tak perlu risau, itu tadi hanya gambaran diskusi awalku dengan kepala sekolah. Kamu tak perlu meragukanku. Hehe… kepala sekolah sudah menyetujui semuanya, tanpa ada birokrasi rumit seperti yang kamu khawatirkan. Pokoknya semuanya beres.”
“Apaa??? Jadi kamu yakin? Ini bernarkah? atau aku sedang bermimpi?”
“Benar Nu, silakan saja. Kapanpun kamu akan membawa anak itu kesini, bawalah. Beliau siap membantu apa rencanamu. Beliau juga sudah menyiapakan orang tua asuh di sini.”
“Ya Tuhan….. Aku sangat berterimakasih padamu teman. Kamu luar biasa. Kepala sekolahmu juga. Padahal, kalaupun beliau tak menyiapkan orang tua asuh, aku siap menampungnya.”
“Tak usah khawatir, semuanya beres.. sudah dulu ya, aku harus mengisi kelas lagi, sebentar lagi bel masuk berbunyi.”
~
Satu bulan kemudian, Mama Elen dan Papa Abraham pulang ke Werwaru. Sungguh tak disangka-sangka. Wajah mereka pun hanya sedikit yang tergambar oleh Sobori. Tak panjang lebar, mereka memeluk Sobori dengan penuh kerinduan dan cinta kasih. Akhirnya Nunu menyaksikan pemandangan yang mengharukan sore itu. Dan disitulah ia mengetahui alasan mengapa mereka pergi meninggalkan Sobori tanpa kabar. Mereka hanya ingin Sobori tak terlalu mencintai mereka, atau bahkan membenci mereka. Mereka ingin Sobori tidak sedih jika pada akhirnya salah satu dari mereka mati saat bekerja. Semua orang tahu, resiko pekerja tambang emas itu sangat besar. Papa Abraham tahu betul, ia ada kemungkinan tak bisa balik lagi ke Moa, sehingga berbagai cara pun ia lakukan agar keluarganya tak terlalu mengharapkan kepulangannya.
Kenyataannya, hari itu semuanya berbalik. Tak ada kekuarangan suatu apa. Kedua orang tua Sobori pulang dengan penuh cinta. Mereka berharap, masa depan kedua anaknya dapat lebih baik setelah kepulangannya. Papa Abraham membelikan Sobori robot mainan dan mobil-mobilan yang cukup canggih. Ia masih ingat, saat kecil dulu Sobori pernah bermimpi untuk mempunyai sebuah robot mainan.
~
Pagi itu, Nunu sengaja beranjak dari rumah Papa Elias, sekedar menengok barisan nyiur yang gagah memagari pantai pasir putih yang mewah, Pantai Tu’u. Nunu mulai melirik, mengawasi kesana-kemari. Oh… belum berubah ternyata. Lalu Nunu pun duduk terdiam. Ya, ia benar-benar diam, sendirian bahkan. Tak ada terik menyengat, tak ada angin ganas yang mengoyak. Nunu hanya merasakan desir ombak yang berisik. Oh… mungkin Nunu telah jatuh cinta dengan Sobori. Nunu kembali perhatikan sekelilingnya, sambil sesekali memanggil camar yang mulai melayang-layang. Lantas, Nunu bertanya lagi…. meski sekedar kelomang yang mendengar. Apakah ia telah jatuh cinta dengan anak itu, tak ingin berpisah dengan anak itu? Masih sama, hanya nyiur yang bersuara, beradu dengan udara yang sejuk. Ombak-ombak kembali berlarian, berpacu dengan karang-karang keras yang kusam namun eksotik. Ia tengok ke belakang, ada seekor cendrawasih yang sedang turun dari rindangnya beringin pantai. Dan, hanya dia yang mampu menjawab. Ternyata benar, Nunu telah jatuh cinta dengannya.
~
Akhirnya Nunu rela sekarang. Nunu paham, tak ada kebahagiaan yang bisa mengalahkan kebahagiaan Sobori saat bertemu kedua orang tuanya. Usaha Nunu itu tak pernah sia-sia. Meskipun sedih karena ia tak bisa hidup bersama Sobori lagi, tak masalah baginya. Sobori memang tak akan pernah tinggal bersama Nunu dan mendapatkan beasiswa yang ia upayakan mati-matian. Jauh melebihi itu, Sobori akan lebih bahagia, karena ia sekeluarga akan pindah ke Sorong. Papa Abraham telah naik golongan di perusahaannya. Sobori dan adiknya bisa bersekolah di kota. Tak perlu kawatir. Kehidupan mereka akan lebih baik.
~
28 Sepember 2013, Nunu kembali ke Jawa. Kali ini ia tak menumpang kapal TNI lagi. Ia sengaja ingin bebas berpetualang. Ia pulang menggunakan kapal perintis Pangrango menuju Ambon. Ia sengaja ingin pulang dengan rute yang berbeda. Di Ambon, ia telah dijemput oleh Adhi, sahabatnya yang sangat ia cintai.
“Sampai jumpa lagi Sobori, cintaku kepadamu tak akan pernah mati Nak.” Nunu bergumam dalam hati, sebelum pesawat yang ia tumpangi take off, kembali ke Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 25, 2014 by .
%d bloggers like this: