caturnugraheni

Pembelajar, Turun ke Lapangan, Berlayar, Berkelana, dan Berbakti untuk Kebaikan

Secangkir Kopi, Politik, dan Kamu

11008451_1023272701020390_4882946849345915776_n

Slurrpp..pagi ini secangkir kopi hitam telah mengusik kemalasanku. Tidak seperti pagi biasanya yang hanya aku isi dengan duduk-duduk, menonton program TV Nasional (penting sih), bersepeda berkeliling komplek Bintaro Jaya, atau sekedar belanja sayuran ke Pasar Segar. Tiba-tiba ia mengajakku untuk berdiskusi lebih dalam mengenai satu hal, untuk menyembukanku dari patah hati karena … (titik-titik)

Akan tetapi, keasyikan ini tiba-tiba terhenti karena aku tak sengaja membaca status teman tentang politik, katanya ,”politik itu kotor”, kata teman yang lain lagi “ah politik itu tidak penting, benci sama politik”, atau bahkan “aku mah orang biasa, tidak tahu soal politik”. Hei, come on bibeh! Apakah kita terlalu malas untuk sekedar menelusur google, atau AltaVista, atau bing-mu lantas ketikkan kata “definisi politik”, “definition of politics”, atau “politik itu apa eah?”(plis deh kwkwk) Atau yang lainnya.

Baiklah, akhirnya aku akan mengakhiri diskusi asyik dengan secangkir kopi. Mari sedikit bicara soal politik secara ringan (masalahnya aku juga tidak mengerti kalau bicara soal politik kelas berat, heheh).
Aduh, seandainya semua masyarakat sadar bahwa kehidupan kita sehari-hari itu penuh dengan politik (which is decision making yaa). Yang berdagang, apakah tawar-menawar tidak pernah mereka lakukan? Apakah mereka tak kenal penetapan harga dan pengamatan pasar? Apa itu namanya jika bukan politik?
Yang suka traveling, apakah namanya jika soal penetapan budget dan pemilihan ketua rombongan itu bukan politik? Bukankah mereka juga selalu bicara soal kepentingan anggota rombongan?
Yang Kiyai, apakah lantas mereka tak pernah melibatkan pemangku kepentingan saat akan membangun pondok dan menunjuk pengurus pondok demi kemaslahatan santri? Apakah semua itu dilakukan sepihak tanpa melibatkan orang lain? Atau apakah mereka yang bicara “politik itu tidak penting” pernah menikmati secercah cahaya lampu dan mencicipi lezatnya bensin premium dari perusahaan yang penuh pergulatan politik di dalamnya?
Kecuali mereka yang menciptakan labelisasi buruk soal politik adalah orang yang hidup sendiri di dalam goa yang gelap, ditemani seekor ratu kelelawar dan dewa ular (itu juga mungkin masih ada kerangka politik abstrak-apasih? Hehee).
Jika kemudian yang mereka baca setiap harinya adalah tentang kekisruhan politik yang menimpa kondisi bangsa dan para pengambil kepentingan, ya jangan lantas mengkambingmerahkan politik. Kita sebaiknya memahami lalu mengingatkan “partisan politiknya”, memberikan masukan yang berarti atau mungkin berpartisipasi membangun bangsa dengan cara kita masing-masing.
Itu saja sih. (Entah tulisan ini bermanfaat atau tidak, yang jelas saya gemas akan hal ini.) Mari lanjutkan minum kopinya, slurppp… 🙂

“If you are politic, you are smooth and diplomatic. You’d probably make a good politician. (nyadur)

Jika orang alim membeci politik, ia akan tersesat saat menghukumi politik. (nyadur lagi)

Seperti sedang bicara tentang seseorang yg selalu makan indom**, tapi ia melakukan sosialisasi kpd masyarakat bahwa mie instan itu beracun, mengandung lilin, berbahaya buat tubuh manusia. (bikin sendiri)

Copyright of photo: favor of wiki (it is not mine)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2015 by .
%d bloggers like this: