caturnugraheni

nothing else matter

Jika Aku Menjadi Seekor Camar

seagull-burung-camar

via: alfilail303.blogspot.com

“Kamu ngapain sih mau pergi jauh-jauh ke Maluku? sayang lho udah kuliah di UI.” Sungguh pernyataan itu sangat membekas di palung (ceilah palung, samudra kali?) hatiku yang paling dalam. Aku sedikit menyayangkan pola pikir “terbaik terbaik terbaik, nomor satu nomor satu nomor satu”. Apa itu terbaik? apa itu nomor satu? apa itu The Top ? Apakah yang terbaik itu harus yang nomor satu? apakah yang terbaik itu harus yang terakreditasi U? Apakah yang terbaik itu harus yang ‘luar negeri’? apakah yang terbaik itu harus yang Eropa? yang Amerika? atau yang Turki? Tidakkah kalian tahu? masing-masing kepala punya pemikiran sendiri, dan masing-masing diri punya arah hidup yang berbeda. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk sesumbar, justru tulisan ini bermaksud untuk membagikan kenikmatan dan kebahagiaan (yakin??). Aku hanya ingin orang-orang tahu bagaimana hidup ini penuh dengan pilihan (yaelah sok menggurui Nung, semua orang juga tahu keleuss). Yang pasti, maksud tulisan ini adalah ingin membuat diri ini semakin menghargai pilihan, serta jangan sampai meremehkan keputusan yang orang lain ambil untuk hidupnya. Titik balik hidupku terjadi pada pertengahan tahun 2012, saat aku memutuskan untuk mengorbankan cita-citaku untuk lulus 3 tahun dari FH UI. Dua tahun kuliah, aku hanya mengisi hidupku dengan belajar dan belajar. Sampai-sampai aku merasa aku mampu untuk lulus kuliah 3 tahun melihat perkembangan nilai akademik yang lumayan pada saat itu. Akan tetapi, aku merasa hati nuraniku tiba-tiba bergejolak. Mungkin Allah sudah menggariskan aku untuk bertemu dengan senior di FH yang sangat inspiratif, namanya Mba Navy Sasmita. Beliau tiba-tiba menceritakan keseruannya saat mengikuti K2N (Kuliah Kerja Nyata UI). Sekedar informasi, di UI K2N tidak diwajibkan, akan tetapi siapa saja yang hendak bergabung ia harus melalui proses seleksi yang panjang, di antaranya: seleksi tulis (essai), seleksi wawancara, seleksi tes kesehatan, dan seleksi bintal marinir (plus renang laut sepanjang 250 meter- gila nggak tuh? biasa aja sih haha). Nah, saat itu aku langsung tertarik untuk bergabung di dalamnya, aku ikuti seleksi dengan sepenuh hati, dan akhirnya aku menjadi bagian dari 170 orang yang berhasil menyisihkan sekitar 500 orang lainnya (ini bukan lebay, ini serius!! hehe). Alhamdulillah, aku berhasil lolos sampai tahap akhir, dan aku ditempatkan di Desa Mungguk Gelombang, Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, perbatasan Malaysia. Sampai akhirnya, pada bulan Juni 2012 aku berangkat bersama 23 teman ke Mungguk Gelombang, dan puluhan teman lainnya yang ditugaskan di Bengkayang, Kapuas Hulu, dan Kepulauan Karimata. Kami berangkat menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Celukan Bawang bersama sekitar 120 awak kapal, dengan Komandan Yarli Kemal Mirza. Banyak hal menarik aku temui selama 5 hari terombang-ambing di lautan, tentang bagaimana berjuang di atas keterbatasan, bertahan demi tugas pengabdian, kuat agar tidak menyusahkan teman, dan lain-lain. Sayangnya, aku tidak berhasil menjadi kuat, mabuk laut menghantuiku selama berhari-hari, banyak teman yang memaksaku untuk makann, tapi percuma saja,makanan yang masuk ke perut akan keluar lagi kok. Cerita mabuk laut cukup sampai di sini saja, akhirnya kapal docking di Lanal Pontianak, kami menginap sehari lagi untuk kemudia esoknya lanjut ke daerah penempatan masing-masing. Aku dan 24 teman lainnya berangkat menggunakan minibus menuju Sintang, jarak Pontianak-Sintang cukup jauh sekitar 17 jam. Kami menginap di Korem Sintang, kemudian paginya berangkat ke Merakai untuk menginap lagi di Markas Koramil. Baru setelah itu kami menyeberang sungai Ketungau menggunakan sampan, dan lanjut ke desa menggunakan mobil double gardan. Duh… sepertinya cerita perjalanan terlalu detail… Sampai di Desa, aku menemui banyak keajaiban dan kenikmatan. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah mereka. Aku senang hidup dengan orang Dayak Ketungah dan Dayak Iban, etos kerja mereka bagus, mereka adalah petani lada yang ulet. Aku juga menikmati prosesku beradaptasi dengan mereka, mempelajari bahasa mereka. Itu satu hal dalam hidupku yang membuatku merasa nikmat. Aku ingat kata nenek induk semangku, setiap aku makan, beliau selalu bilang “makai mayuh-mayuh nona” (makan banyak-banyak mbak-hehe). Hidup selama sebulan dengan mereka membuatku paham sekali, bahwa aku harus berbuat sesuatu untuk Indonesia. Aku tak habis pikir, mengapa kondisi bangsa ini begitu timpang?? Sekolah di Desa Mungguk terbuat dari kulit kayu, atapnya dari daun rumbia, jalanan berlumpur tak jarang membuat aku dan kawan-kawanku terjerembab. Aku menikmati sekali fase hidupku ini, aku bertekad sepulang dari sana aku akan menjadi pribadi yang bebas, tak perlu sibuk hanya dengan belajar di kelas, mengejar nilai tinggi. Untuk apa?? belajar di masyarakat itu jauh lebih nikmat boy!!! Bulan Agustus aku kembali ke Jakarta, dengan kesibukanku menyelesaikan laporan K2N aku menjadi banyak berpikir untu mengulangi fase “itu” lagi. Aku ingin menjajal daerah lain, kalau perlu Papua, entah dengan cara apa. Aku harus bisa.. Sekitar bulan Desember nilai K2N diumumkan,alhamdulillah aku mendapat nilai A, setauku sulit sekali untuk mendapatkan nilai A di K2N ini. Setelah itu lantas aku berpikir, untuk apa nilai A-ku ini jika aku tidak bisa memanfaatkannya untuk hal lain yang juga berguna. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar sebagai pendamping lapangan peserta K2N untuk tahun berikutnya. Saat itu ada banyak mahasiswa dan alumni yang berminat juga untuk menjadi pendamping lapangan. Dengan kekuatan doa, niat, dan kemampuan untu mencuri hati (ceilaaahh..) pewawancara, alhamdulillah aku dinyatakan lolos bersama 20 teman lainnya. Persiapan untuk K2N UI 2013 berlangsung cukup hectic, lebih heboh karena lokasi yang dipilih cukup menantang, ada Kabupaten Raja Ampat, Kepualauan Aru, Pulau Buru, Pulau Moa (Perbatasan Timor Leste dan Australia), Manyaifun, Kimaam, Pulau Brass (Perbatasan Republik Palau, AS), dll. Waktu pemberangkatan tiba, seharusnya lokasi penempatanku adalah Raja Ampat, tapi berhubung pesawat Hercules yang berangkat hanya satu akhirnya aku dipindah ke Pulau Damer, Maluku Barat Daya. Aku bersama 29 orang teman berangkat ke Maluku Barat Daya menggunakan Pesawat Hercules A-1319. Malang nasib kami karena kami harus ditumpuk-tumpuk dengan barang bawaan para penumpang lainnya. Kami serasa naik teronton terbang, aku berdiri dari Lanud Halim Perdana Kusuma sampai ke Lanud Ngurah Rai Bali. Capek-nya luar biasa, tapi ini menjadi pengalaman hidupku yang paling menantang dan tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Pesawat transit di Joja, Surabaya, Bali, Makassar, Maumere, dan mengakhiri perjalanan di Lanud El-Tari Kupang. Kami melanjutkan perjalanan ke Lanal El-Tari, di sana kami sudah ditunggu Kapal Republik Indonesia (KRI) dr. Suharso, KRI Rumah Sakit terbaik di Indonesia, buatan Korea dengan berat lebih dari 1000 ton. Kapalnya luar biasa bagus, kami seperti sedang berada di hotel berjalan. Kapal membawa sekitar 150 awak dengan Komandan I Putu Darjatna, dan Ka Logistik Mas Hugolo Budi (Duh, apa kabar ya Mas Budi? apadehh…!!). Perjalanan dari Kupang ke Pulau Damer harusnya sekitar 5 hari. Akan tetapi berhubung gelombang di Laut Timor mencapai 6 meter, Komandan KRI membatalkan destinasi kami, dan kami semua akan diturunkan di Pulau Moa. Akhirnya semua agenda dirombak total, kami harus mencari daerah sendiri. Bayangkan, kami akan datang ke suatu daerah yang kami sendiri belum pernah bertemu dengan salah satu di antara warganya, kami hanya bermodalkan kulonuwun saja. Di perjalanan kami sangat menikmati, ada atraksi lumba-lumba, ada panorama sunrise dan sundown yang memesonakan mata, ada Pulau Batek, pulau terkecil di Indonesia yang dihuni oleh 4 orang TNI. Saat malam tiba, kami bercengkerama bersama di atas dek kapal, kadang juga di helly-pad, sambil menatap bintang yang berhamburan, aku merasa aku sedang berada di syurga kala itu. Empat hari kemudian, kami sampai di Pulau Letti, pulau yang terdekat dengan Pulau Moa. Berhubung KRI dr Suharso sangat besar, maka KRI tidak akan sanggup untuk menepi, kapal ditakutkan kandas. Hingga akhirnya Kapal terpaksa docking di Pulau Letti, kami diangkut menggunakan LCU, menantang sekali, karena awak kapal kesulitan mengeluarkan LCU yang cukup besar (LCU adalah semacam sekoci tapi ukurannya cukup besar), kami hanya berdoa, dan saat itu aku terkagum-kagum dengan TNI AL (ehm…). Perjalanan Pulau Letti-Pulau Moa sekitar 30 menit, kami serasa sedang menantang bahaya, berada di tengah laut dengan gelombang 4 meter, dan hanya berbekalkan pelampung. Setelah sampai di Pulau MOa, kami disambut hangat oleh para nelayan, ternyata petugas Letti sudah berkoordinasi dengan Komandan KRI dan telah menginfokan kedatangan kami kepada PEMKAB MBD. Kami dijemput dnegan angkudes, disambut dengan hangat oleh PEMKAB dan kami diberikan fasilitas menginap di rumah dinas Wbup, serta diberikan sebuah mobil (sebut saja avanza-kwkw). Selama seminggu kami berkoordinasi dengan Pemkab, Pemkec, dan Pemdes. Terpaksa kami belum ditempatkan di desa karena ada keterbatasan komunikasi. Sembari menunggu disposisi (ceilah…) kami sering bermain-main ke Pantai, kami seperti memiliki sebuah pantai pribadi yang tenang dan kalem, mengahanyutkan perasaan, dan menenggelamkan kegundahan (apasiihh..). Seminggu berlalu, kami berangkat ke desa masing-masing. Aku ditempatkan di desa Werwaru bersama 8 teman. Selama kurang lebih sebulan di sana, banyak keajaiban yang lagi-lagi aku jumpai, mereka adalah pemeluk kristen yang sangat toleran, selalu memberi keleluasaan untuk kami. Bahkan, saat pesta rakyat, salah satu dari kami diminta untuk menyembelih kerbau (katanya agar kerbau halal dan kami bisa makan bersama mereka), Nah.. ini bagus bukan, buat apa kita menapir-napirkan mereka coba? (aih jangan OOT Nung!!). Ya, intinya aku kembali merasakan kenikmatan tiada tara, aku mengenal warga yang sangat ramah, aku tak pernah lelah meski harus berjalan puluhan kilometer untuk mengadakan sosialisasi dan pengobatan gratis bersama kawan-kawan tim kesehatan. Setiap sore aku dan kekawan serta penduduk sering bermain ke Padang, sekedar untuk memerah susu kerbau, ataupun mencari anggrek liar. Aku kembali merasa hidup di surga, tak ada polusi, tak ada macet, tak ada bising, sehingga aku merasa hatiku benar-benar adem. Saat kangen dengan Ibu Bapak, aku dan teman-teman pergi ke bukit untuk mencari sinyal, kami menelpon sambil meletakkan HP di atap gubuk, jika tidak maka sinyal akan hilang.. Ini merupakan seni hidup yang tak ternilai. Tarawih bersama di balaidesa adalah kenangan yang juga melekat erat di relung benakku, beralaskan trashbag,bercahayakan lentera/lampu emergency. Dengan keterbatasan jarak pandang saat perjalanan pulang memaksa kami belajar kesederhanaan,bahkan pernah suatu saat salah satu kami digigit anjing. Kami berbuka seadanya, terkadang kami mendapat kejutan sederhana dari warga, ada yang memberi kami kelapa muda, kadang juga Lemong Manis (jeruk manis). Waktu terpaksa memisahkan kami dengan kenikmatan surgawi itu, kami harus pulang. Kabar kepulangan juga mendadak, berbekal radio SSB, Komandan Kapal Teluk Mandar menghubungi petugas Pos Pulau Letti, dan Mereka akan mencari kami di markas penginapan. Akhirnya kepulangan kami ndisertai dengan ketergesa-gesaan, karena kapal juga dikejar target operasi. Kami tak sempat berpamitan dengan seluruh masyarakat di Moa. Sekembalinya dari sana, aku terus berpikir, kapan lagi aku bisa mendapatkan kenikmatan itu? akhirnya aku membuat program sosial yang aku ajukan ke PKM, dan walhasil belum lolos, aku harus berjuang sendirian kemudian agar aku bisa berkeliling Indonesia lagi. Banyak kesempatan menarik yang datang, aku tak akan pernah menyiakan satupun. Aku mulai mengikuti soscial camp FE UI di Rancabali, pelosok Kabupaten Bandung, aku mendapat teman-teman baru, adik-adik baru. Aku kembali belajar tentang keberagaman, aku mulai beradaptasi lagi, dan aku mempelajari bahasa mereka, dan aku sangat menikmati. Aku belajar bagaimana memetik teh yang benar, aku belajar memanen stroberi, aku belajar memanen sayuran, dan lain-lain. Sekembalinya dari Rancabali, aku mengikuti seleksi UI Mengajar. Aku tak ingin menyiakan sedikitpun waktu liburku. Sayangnya, UI Mengajar belum menjadi hadiah liburan tahun 2014. Wktu seleksi akhir, aku ketiduran sampai jam 12 siang gegara aku begadang mengerjakan sebuah proyek. Walhasil, aku mencari kesempatan lain. Sampai akhirnya aku menemukan poster Jepara Workcamp LCC UI, tanpa basa-basi aku langsung mendaftar, beberapa tahapan seleksi aku ikuti dengan sepenuh hati. Akua selalu mem-follow up perkembangan seleksi, sampai-sampai panitia mengirimkan pesan seperti ini “Catur, kamu semangat sekali, aku suka, sukses ya, semoga lolos”. Duhh.. senang rasanya, aku optimis aku akan lolos. Dan Allah selalu sesuai dengan prasangka hambaNya, aku lolos dan aku berangkat ke Jepara. Aku mendapatkan banyak pelajaran dari masyarakat Donorojo yang notabene pernah mengalami Kusta. Aku dan teman-teman membuat program sosial untuk menepis (ceilah menepis…) stigma negatif terhadap orang-orang yang pernah menderita kusta. Selengkapnya dapat dilihat di notes ini https://www.facebook.com/notes/catur-nugraheni/mereka-bukan-emas-tapi-mereka-berkilauan-sekarung-mutiara-dari-istana-surgawi-ba/10152009937225674. Sepulang dari Jepara, aku kembali ke Depok, aku harus segera menyelesaikan skripsiku. Sebulan mengerjakan skripsi, aku merasa sangat stres, aku kembali mencari kesempatan agar aku bisa mengunjungi pulau lain di indonesiaku yang Indah ini. Alhamdulillah ada tawaran dari instansi pemberi beasiswa (sebut saja Pertamina Foundation- kwkwkwk) untuk menjadi surveyor penilai program Sekolah Sobat Bumi Indonesia. Aku tak mau dong nyia-nyian … akhirnya aku siapkan CV terbaik, dan aku terpilih bersama 16 orang dari UGM, IPB, dan Umum. Saat pembekalan aku selalu serius memperhatikan materi dari ketua pelaksana, aku niat baik (untuk jalan-jalan, haha… dan tentunya untuk menjadi surveyor yang baik dong…). Sampai tiba waktunya pemilihan lokasi penempatan, aku tak mau orang lain memilih lokasi incaranku, aku langsung tunjuk tangan dan memilih lokasi paling jauh, SAMARINDA. Aku belum pernah ke Kalimantan Timur. Saat site visit aku kembali menikmati ganasnya kota Samarinda, masyarakatnya cenderung royal dan hedonis, tapi ramah dan tidak mau mengecewakan tamu. Aku mendapatkan banyak kenalan, dari Guru hingga Walikota. Aku sempat menikmati indahnya Islamic Center, Sungai Mahakam, dan Pasar Budaya di sana. Waktu tersisa dua hari, aku tidak ingin membuangnya begitu saja, aku mulai meng-explore Balikpapan, hingga akhirnya aku sangat ngefans dengan kota ini. Aku seperti tak ingin pulang. Sepulang dari Samarinda, aku kebut skripsiku, di sela-sela persiapan sidang aku mendaftar sebagai Ekspeditur Budaya Indonesia, aku sudah menyiapkan tulisan yang menurutku terbaik, aku sudah menyiapkan kompas, dan sebagainya. Aku sudah mengatur jadwal sidang dan jadwal ekspedisi. Sayangnya, kondisi sangat tidak memungkinkan, aku tak mungkin bolak-balik ke Kalteng-Depok. Dan akhirnya, mimpiku pupus sudah. Aku hanya mempersiapkan sidang dan wisuda sebaik-baiknya. Smpai bulan Agustus alhamdulillah aku ditetapkan sebagai perwakilan wisudawan FH UI dengan IPK tetringgi. Aku lantas bertanya kepada diriku sendiri, untuk apa gelar ini? untuk apa nilai ini? Bagaimana aku harus bertanggung jawab dengan nilai ini? Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba bekerja di sebuah kantor pengacara. Sebulan berjalan, kok aku seperti mati, aku seperti orang yang tak punya arah, untuk apa aku bekerja begini? aku tidak menikmati, sungguh….. Sampai akhirnya aku stress dan aku sering pingsan. Aku merasa aku lebih baik resign, aku mulai melamar beberapa pekerjaan sebagai peneliti, akhirnya beberapa panggilan test datang, dan bermuara pada singgahnya aku di Ditkumham Bappenas (bahasanya Nung… kwkwkw). Aku suka dengan pekerjaan menulis, aku suka penelitian, dan aku berharap dengan aku menjadi peneliti maka aku akan lebih luas lagi ruang geraknya, aku akan meneliti apapun yang ada di indonesia ini (lebay sih…). Selama di Bappenas, aku menikmati pekerjaanku, tapi aku masih menyimpan semua mimpi. Ya.. mimpi itu masih lekat dengan kisah awal-awal cerita tadi, aku akan mengulang kenikmatan surga itu. Sekedar informasi, dari dulu aku selalu merinding setiap mendengar kata Halmahera, tak tahu kenapa, benar-benar tampak konyol diri ini. Smpai akhirnya aku memutuskan untuk memilih bekerja di Halmahera, aku punya sebuah idealisme yang tak boleh aku matikan. Dan lagi-lagi Allah selalu sesuai dengan prasangaka hamba-Nya, akhirnya mimpiku terwujud. Aku akan segera ke Halmahera. Banyak orang di sekitarku menentang, melarang, bahkan mencibir, untuk apa? katanya. Yah.. aku jawab “aku akan menjadi guru, guru apa? ya kalau tidak bisa menjadi guru untuk orang lain, SETIDAKNYA AKU AKAN MENJADI GURU UNTUK DIRIKU SENDIRI”. Bukankah kalau kita selalu merisaukan pendapat orang lain yang tak bijak lantas kita tidak akan selesai dengan hidup kita? COME ON GUYS!! Hidup ada di tangan masing-masing. Banyak yang menyayangkan keputusanku, katanya itu sia-sia saja, katanya aku bisa mendapatkan yang lebih baik dari sekedar apa yang aku putuskan ini, oke aku sangat menghargai pendapat mereka. Tapi yang aku tidak suka, mengapa mereka harus menyalahkan mimpi orang lain? mengapa harus ada mazhab yang mengatakan bahwa yang terbaik itu yang nomor satu, yang di kota besar, yang di luar negeri, yang ini yang itu? Mengapa??? tidakkah kita bisa berpikir efisien, kalau kita bisa bahagia sekarang, mengapa kita musti menghabiskan sepuluh tahun dulu untuk mengambil kebahagiaan itu kembali?. BERDAMAILAH DENGAN HIDUP, BERDAMAILAH DENGAN DIRI SENDIRI! Dan anehnya lagi, aku merasa sangat bahagia ketika aku berada di tempat baru, di tempat di mana aku tidak mengenal satu orang pun, aku akan bertanya sana-sini, aku mulai mencari alamat, dan aku mengambil keperluanku segala macam di koper atau tas ransel. Itu sangat nikmat bagiku….. ohh Aku hanya ingin menjadi camar, camar yang bebas dari belenggu awan, camar yang tak takut bersaing dengan paus untuk memburu seekor kril di tengah lautan lepas. Aku ingin berlabuh sesuai penciptaan ini, aku ingin bahagia dengan mimpiku ini. Aku ingin menatap awan yang putih bersih, langit yang biru cerah, laut yang tosca padam…. Aku ingin melompati lanskap-lanskap bumi Indonesia yang tak terbatas indahnya, aku ingin bergurau dengan pasir putih, berlayar bersama bahtera yang besar, tak takut terombang-ambing, bertengger di ujung tiang bendera, mengepakkan sayap, terbang jauh dan semakin jauh………… Depok, 19 Januari 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 1, 2015 by .
%d bloggers like this: