caturnugraheni

nothing else matter

Kima-ku Sayang Kima-ku Malang: Sebuah Penyadaran Masyarakat Akan Pentingnya Melindungi Kima Si Kecil Nan Lezat

images (2)

via: naufalbear.blogspot.com

Laut merupakan ekosistem raksasa dunia yang menyimpan potensi ekonomi sangat besar. Di dalamnya terdapat berbagai macam biota baik yang dilindungi maupun tidak. Seiring dengan perubahan cara hidup manusia yang cenderung konsumtif dan destruktif, perlindungan terhadap biota laut makin gencar dilakukan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di indonesia. Contoh perlindungan komprehensif terhadap biota laut yang langka dan terancam punah terdapat di Amerika. Lembaga  National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA Fisheries) menerapkan yuridiksi terhadap 125 spesies biota laut yang digolongkan ke dalam Marine Mammals, Sea Turtles, Fish (Marine dan Anadromous), dan Marine Invertebrates and Plants.[1] Di dunia internasional juga terdapat konvensi untuk perdagangan satwa yang dilindungi dan/atau terancam punah, yakni Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).[2] Beberapa spesies biota laut Indonesia yang masuk dalam pengaturan konvensi tersebut antara lain Paus Biru, Dugong, Penyu, Paus Sirip, Hiu Putih, Paus Bengkok, Siput Hijau, dan Kima (Kima Sisik, Kima Cina, Kima Selatan, Kima Raksasa, Kima Lubang, Kima Keil, Kima Tapak Kuda), serta berbagai jenis kerang dan rumput laut lainnya.[3] Di antara hewan-hewan laut yang dilindungi tersebut, ada satu spesies yang masih ditangkap dan dikonsumsi secara bebas bahkan menjadi ikon kuliner seafood di Indonesia, yakni Kima.

Hewan ini hidup di laut, tepatnya di daerah karang atau terumbu karang dan di padang lamun.[4] Secara geografis, Kima mempunyai tempat sebaran yang terbatas di daerah laut tropis terutama di Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.[5] Populasi Kima terpadat ada di Taman Nasional Taka Bonerate, kemudian menengah dan kecil ada di Teluk Cendrawasih, Pulau Pepaya, dan Pulau Burung.[6] Semua bagian tubuh Kima dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Daging kima, terutama otot adduktor dan mantelnya, merupakan makanan laut (seafood) yang enak dikonsumsi dan bergizi tinggi. Penduduk di pulau-pulau dan pesisir Indo Pasifik telah menjadikan kima sebagai salah satu bahan konsumsi lauk-pauk sejak zaman dahulu.[7] Bahkan, Kima juga menjadi salah satu bahan makanan yang dianggap sakral, sehingga sering dimanfaatkan untuk kebutuhan ritual budaya di beberapa daerah di Timur Indonesia.[8]

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Kima (Tridacnidacna sp) atau yang biasa disebut tiram atau kerang ini merupakan salah satu biota laut yang dilindungi. Berbeda dengan hewan laut lainnya seperti paus dan hiu, dimana mayoritas masyarakat telah sadar dan waspada terhadap keberadaannya yang dilindungi. Kenyataannya, sampai saat ini Kima masih beredar di masyarakat dalam berbagai bentuk olahan makanan seperti sushi atau sashimi dan berbagai jenis olahan kuliner kerang. Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam bentuk makanan, Kima juga banyak diburu oleh masyarakat dunia untuk organisme akuarium, kulit/cangkangnya untuk berbagai kebutuhan hidup seperti dekorasi, keramik, dan perhiasan.

Hampir seluruh restoran makanan laut menyediakan olahan tiram atau kerang yang kebanyakan berasal dari keluarga Kima Pasir dan Kima Cina. Hal ini membuat masyarakat Indonesia tidak pernah merasa berdosa saat mengonsumsi Kima, karena mereka beranggapan bahwa Kima adalah hewan laut yang umum dikonsumsi, lain dengan penyu dan sejenisnya. Selain karena Kima yang populer sebagai bahan makanan yang dianggap lazim, kurangnya perhatian masyarakat terhadap populasi Kima juga disebabkan oleh kurang masifnya kampanye oleh berbagai kalangan, terutama pemerintah. Padahal  Kima masuk ke dalam Appendix II CITES[9], yang artinya pemerintah Indonesia sebagai salah satu peserta konvensi tersebut wajib untuk melakukan sosialisasi secara besar-besaran.

Ancaman serius bagi perkembangan populasi Kima adalah derasnya arus permintaan pasar baik lokal maupun internasional, mengingat Kima dianggap sebagai bahan makanan dengan kandungan protein yang sangat bagus. Kima yang paling banyak diburu masyarakat di Indonesia adalah Kima Lubang.[10] Nilai seni yang dihasilkan dari pengolahan cangkang Kima juga cukup tinggi sehingga menjadi incaran bisnis masyarakat Indonesia. Daging kering Kima paling banyak laku di pasar ekspor hasil laut Indonesia. Penangkapan Kima untuk kebutuhan tersebut kebanyakan dilakukan secara ilegal. Selain karena faktor perburuan atau pengambilan ilegal, penurunan populasi Kima secara drastis disebabkan oleh penyakit dan parasit, predator, faktor perubahan lingkungan (seperti kurangnya sinar matahari) dan faktor antropogenik lainnya, seperti pengeboman dan pengrusakan ekosistem laut lainnya.[11]

Sementara itu, Kima merupakan salah satu biota laut dengan pertumbuhan paling lambat, yakni 2-12 cm per tahun. Untuk mencapai pertumbuhan panjang maksimal, Kima memerlukan waktu hingga seratus tahun.[12] Hal ini menunjukkan bahwa Kima memang merupakan biota laut yang membutuhkan perlindungan darurat. Meskipun beberapa daerah di Sulawesi seperti Toli-Toli dan Taman Nasional Taka Bonerate di Selayar telah menempatkan Kima sebagai biota laut dengan konservasi khusus, namun hal ini belum terlalu dikenal oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat masih belum mengetahui eksistensi Kima yang patut untuk dilindungi dipertahankan.

Mengingat kondisi di atas, Pemerintah Indonesia harus memelopori kampanye penyelamatan Kima di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dapat dilakukan misalnya melalui implementasi peraturan yang telah ada[13] baik di tingkat pusat maupun daerah. Kemudian langkah ini harus diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena suatu regulasi tak akan bermakna penting tanpa kepatuhan masyarakat untuk mengimplementasikannya. Berbagai gerakan penyelamatan dapat dilakukan, misalnya kampanye massa, pembahasan di media massa, sosialisasi langsung, atau memasukkannya ke dalam program kerja wajib bagi instansi pemerintahan yang bersangkutan.

 

[1] NOAA Fisheries, “Endangered and Threatened Marine Species under NMFS’ Jurisdiction” http://www.nmfs.noaa.gov/pr/species/esa/listed.htm#mammals, dakses 24 April 2015.

[2] Marine Bio, “Threatened and Endangered Species – MarineBio.org” MarineBio Conservation Society. Web. Accessed 10:49 AM 4/24/2015. http://marinebio.org/oceans/threatened-endangered-species/, diakses 24 April 2015.

[3] Yayasan Terumbu Karang Indonesia, “Hewan-Hewan Laut Dilindungi Menurut Peraturan di indonesia” http://www.slideshare.net/terangi2011/biota-laut-dilindungi, diunduh 24 April 2015.

[4] Administrator, “Kima, Biota Laut Terancam Punah” http://www.ksdasulsel.org/konservasi/252-kima-biota-laut-terancam-punah?format=pdf, diakses 24 April 2015.

[5] Mudjiono, “Catatan Aspek Kehidupan Kima, Suku Tridacnidae (Mollusca, Pelecypoda)”,  Jurnal Oseana, Volume XIII, Nomor 2 : 37-47, Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, 1998.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Heru Setiawan, “Ancaman Terhadap Populasi Kima (Tridacna sp) dan Upaya Konservasi di Taman Nasional Taka Bonerate”, Makalah untuk Balai Penelitian Kehutanan Makassar, 2013, hlm. 1.

[10] Disarikan dari Jejak Petualang Trans 7, dengan Host Indriyani Laksmi, Kabupaten Toli-Toli, http://mytrans.detik.com/video/2012/10/17/49/17/27/6460/penyelamatan-populasi-kima-di-sulawesi-tenggara?993301MyLatest diakses 24 April 2015.

[11] Ambariyanto, dalam Heru Setiawan, Op.cit., hlm. 4.

[12] Ibid.

[13] Misalnya Undnag-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya ALam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 1, 2015 by .
%d bloggers like this: