caturnugraheni

nothing else matter

Krisis Makna Diri Mendekati Seperempat Abad

Kalau beberapa saat lalu aku dibuat kagum oleh tulisan seorang teman tentang krisis cintanya di usia seperempat abad, maka hari ini aku akan menulis tentang krisis makna mendekati seperempat abad.
Pagi itu aku awali hari seperti biasa, sarapan sawi dan tomat rebus, ditambah segelas air putih. Kebetulan Ponsel ku letakkan di samping meja. Dering whatsapp berbunyi, rupanya ada pesan dari beberapa teman lama. Setelah ku balas, lalu aku menyalakan TV dan kemudian bingung, karena tidak ada tontonan yang menarik. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang sering galau, jika boleh sedikit tak jujur. Masalah di kantor bukan alasan yang tepat untuk membuat diri menjadi pendiam. Meskipun secara alamiah keadaan yang penuh persaingan dan sikut-menyikut itu sebenarnya mampu membuat diri ini muak. Nyatanya hidup tak semembosankan dan semenjengahkan itu. Hidup itu warna-warni sepertinya, kadang juga lucu. Bahkan sempat seseorang mengatakan bahwa ini adalah pertemuan pertamanya denganku yang membuatnya canggung dan begitu mengerikan.

Baiklah, jikalau ternyata patah hati itu dapat diteliti secara ilmiah, namun tak akan kubiarkan ilmuwan mengacak-acak logika dan perasaanku. Toh ada juga sebuah video bagus yang mengatakan bahwa jatuh cinta itu sebenarnya bukan cinta, itu hanyalah hormonal yang mana itu alami. Bukan haram jika kenyataannya aku tertarik dengan seseorang, hanya saja aku harus bisa mengontrolnya. Terlebih masih banyak hiburan yang bisa mengalihkanku dari sekedar hormon aneh dan absurd tadi. Sore itu aku kembali mengarungi ganasnya Jakarta. Sembari menghibur diri, kalau-kalau nanti aku bisa menemukan makna diriku yang akhir-akhir ini mulai hilang tergerus kemacetan dan kebisingan commuter line.

Sesaat merasakan kebahagian yang tampak nyata, tertawa bersama di puncak gedung sebuah mall. Ini juga atas inisiatif teman yang sudah aku sebut sahabat yang sifatnya cukup membuatku meleleh, katanya mumpung dia belum merantau ke Australia dan aku ke sebuah pulau nun jauh di sebelah utara Benua yang keren itu. Tidak menyangka sih, tragedi tertipu koper rusak dan cekcok kecil antara temanku dan penjual koper cukup membuatku menahan sesak dan tawa. Terlebih aku baru sadar kalau aku telah mengelilingi mall ini hanya beralaskan kaos kaki. Konyol sih… tapi itulah hidup, kadang dianggap tanpa makna. Padahal makna hidup adalah hidup itu sendiri. Akhirnya aku memasuki fase berikutnya, karena fase attracting sudah selesai, dan inilah resiko saling menarik diri juga menjadi giliran. Akhirnya malam itu aku memutuskan untuk pergi lebih jauh, cukup hanya sampai di sini aku kehilangan makna. Selanjutnya, aku tak kan lagi mengulangi kesalahan yang sama..

TANJUNG BARAT, 6 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 1, 2015 by .
%d bloggers like this: