caturnugraheni

Pembelajar, Turun ke Lapangan, Berlayar, Berkelana, dan Berbakti untuk Kebaikan

Belajar Kehidupan dari Mbak Adelina, Soal Pilihan, Iman dan Kebahagiaan

Adalah sebuah kehormatan bagiku bisa bertemu dengan orang-orang baru yang inspiratif dalam titik krisisku. Aku senang sekali saat menempati tempat-tempat baru, seperti sekarang ini. Diklat pra jabatan menuntutku untuk menyewa tempat kos di Kemayoran, dekat kantor. Di kost baru, aku mencoba untuk berkenalan dengan semua penduduk kost satu persatu.Aku senang sekali ngobrol, soal apapun mulai dari yang bermanfaat sampai hal-hal remeh temeh hehehe.

Beberapa minggu tinggal di kost tersebut aku menemukan teman yang menurutku sudah cukup matang usia dan sukses dalam karirnya. Dilhat dari pembawaannya, beliau dewasa. Namanya Mbak Adelina Naibaho, beliau orang Batak. Aku biasa ngobrol dengan Mbak Adel saat nyuci baju atau saat memasak. Kadang juga bertegur sapa saat sama-sama ngantri di kamar mandi.

Aku merasa cocok dengan Mba Adel, awalnya sederhana sih… hanya soal selera makan. Tiap hari Mba Adel makan sayur dan buah, terutama pepaya, beliau juga penyuka rumput laut. Dengan begitu, kami menjadi sangat nyambung dan klik satu sama lain. FYI, aku sedang memulai untuk menata kembali gaya hidup dan pola makan. Makan nasi hanya boleh dilakukan saat siang hari, pagi dan malam hari harus makan buah dan sayur. Olah raga juga harus dilakukan minimal 20 menit tiap pagi. Aku lihat Mba Adel ini orangnya sangat rapih dan bersih, badannya juga ideal. Aku iseng mengajak Mba Adel jogging tiap weekend, dan gayung pun bersambut.

Pagi tadi, 31 Mei aku dan Mba Adel keluar dari kost pukul 06.30, menyusuri jalan kemayoran menuju lapangan banteng yang masih cukup remang-remang. Sepanjang jalan, kami ngobrol tentang gaya hidup buruk di Jakarta, juga soal kesemrawutan kota metropolitan ini. Pukul 06.00 kami sampai di Lapangan Banteng. Mba Adel mulai melakukan warming up, sementara aku tidak sabar lihat bundaran track lari yang masih sepi, aku langsung lari-lari kecil. Alhamdlillah aku berhasil lari 5 putaran lapangan Banteng, itung-itung latihan untuk persiapan pembekalan dan persiapan mendaki Rinjani (aamiin :)).

Matahari mulai naik, denyut jantungku juga mulai berpacu dengan desingan bus trans jakarta. Akhirnya, kami memilih untuk melakukan cooling down di Taman Lap Ban, di sana banyak pepohonan rindang dan gazebo. Setelah selesai, akhirnya Mba Adel membuka obrolan. Ternyata Mba Adel baru pulang dari Belanda untuk merenung. Ngomong-ngomong soal merenung, aku juga sedang membutuhkan tempat terbaik untuk melakukannya.

Mba Adel, saat ini bekerja sebagai Accounting Manager di sebuah perusahaan multinasional. Yang aku kagumi juga, beliau banyak belajar, tak pernah bosan. Beliau fashih bahasa Inggris, dan moderat dalam Bahasa Belanda. Di usia yang kira-kira mendekati 30an, beliau ini masih terus berusaha mengukir prestasi terbaik untuk menjemput kebahagiaan. Ingat, belliau berpesan padaku untuk memberikan highlight pada kata-kata “menjemput kebahagiaan”. Ahaha…yang sensitif sih mungkin akan menganggap beliau misionaris.

“Sekarang aku tanya Nung, tujuanmu untuk hidup itu apa? apakah untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya? Bukan itu! Hidup itu simpel, untuk menemukan kebahagiaan lahir dan batinmu Nung. Lagian nanti harta kita nggak dibawa mati kan, yang tersisa nanti hanya the way you earn and the way you spend , Itulah kenapa aku resign dari perusahaanku yang pertama. Karena aku tidak menemukan kebahagiaan di sana, dan aku memutuskan untuk pergi ke Belanda 3 bulan.”

Obrolan kami semakin lama semakin memanas, sampai akhirnya bermuara pada soal berbagi dan menolong, juga soal orang Palestina dan Rohingya. Mba Adel mengajariku untuk selalu berbagi dengan orang lain, mensyukuri hidup. Bahkan beliau sempat bilang “Nung, uang yang kita dapatkan itu ada hak Tuhan di sana, kalau di agamaku namanya sepersepuluh, harus dikeluarkan untuk gereja dan kepentingan sosial. Setahuku kalau Islam zakat 2,5% ya? itulah Nung satu-satunya penyeimbang untuk apa-apa yang kita dapatkan.”

Allahuakbar, aku tersentak, aku ingat sekali beberapa waktu yang lalu aku lupa menyisihkan sebagian kecilnya lagi, sampai akhirnya aku jatuh ke dalam penyesalan dan juga keuangan yang carut-marut. Mbak Adel bilang, “mulai sekarang Nung, kita harus disiplin, sejak kuliah aku dibiayai kakakku, setiap uang yang aku terima dari kakak selalu aku sisihkan sepersepuluh”. Ya Robbi, Mbak Adel, aku malu, dulu aku tidak pernah sedisiplin Mba Adel!.

Kemudian, Mba Adel berpesan agar aku tidak malu dan gengsi untuk menjadi diri sendiri. Tidak perlu ragu untuk berhemat dan berjalan kaki kemana-mana (toh untuk investasi kesehatan juga). Sisihkan uang kita, selain sebagai kewajiban tuntunan agama, sisihkan juga untuk keperluan traveling, karena dengan menjelajah alam, kita akan banyak bersyukur dan kembali kepada sang pencipta, dengan penegasan “asal bukan bertujuan hanya untuk pamer foto di media sosial ya heheheh”.

Aku senang sekali dengan cara pandang Mbak Adel, sangat dewasa, bijak, dan tidak menggurui. Tidak ada tendensi pamer sedikitpun dalam raut wajah dan sorot matanya. Intonasi suaranya juga tegas dan cerdas, banyak kosa kata baru bahasa Inggris dan Belanda yang aku pelajari. Aku kemudian mengutarakan mimpiku untuk bisa kuliah di belanda. Spontan saja beliau menimpali, “sudah, jangan ragu, mulai sekarang kamu perbaiki bahasa inggrismu, belajar bahasa Belanda. Minimal kamu punya mimpi dulu, itu sudah bagus. Tuhan akan memberikan jalan kepada siapapun yang mau.”

Mba Adel bilang, “kamu harus open minded, jangan ikut-ikutan mereka kalau misal ada yang kolot dan tidak mendudungmu untuk maju. Karena di manapun, kamu akan selalu menemukan beberapa orang yang akan menganggapmu remeh. Jadikan itu sebagai pemacu mimpimu.”

Matahari sudah sepenggalah, kami memutuskan untuk pulang. Tak lupa kami mampir di pasar, membeli buah dan sayuran. Dari sini juga aku dan Mba Adel menyesal dengan fenomena provokasi SARA di Indonesia. Kami menyesalkan sikap orang-orang kolot itu, dan bahkan kami bangga dan bahagia hidup berdampingan, saling menghargai. Terimakasih Mba Adel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2015 by .
%d bloggers like this: