caturnugraheni

Pembelajar, Turun ke Lapangan, Berlayar, Berkelana, dan Berbakti untuk Kebaikan

Ronketa: Petualangan Melihat Cerminan Diri

969051_10200958941110417_400657026_n

Dok. Maluku Barat Daya, 2013

Sudah seperempat abad aku hidup. Hampir sembilan tahun aku menjadi manusia yang berusaha mencari makna, dan berusaha mengetahui hidup dari hidupku. Masa SMA, tiga tahun yang bertemu dengan orang-orang satu suku (bukan untuk maksud SARA), satu grade, dan kebanyakan satu misi, tak banyak tantangan, tak banyak keluhan, lempeng-lempeng saja, dan nyaman-nyaman saja tentunya. Masa kuliah S1, selama empat tahun, melihat lingkungan yang lebih luas, menghadapi karakter orang yang lebih banyak jenisnya. Aku, di awal kuliah adalah pribadi yang mungkin rendah diri, ndeso, cupu, dan lugu. Maklum, dari kampung, beda sekali dengan teman-teman baruku yang rerata adalah anak Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Terlebih, mereka adalah orang-orang berada. Sedih awalnya, rasanya berat, seperti ingin mengundurkan diri. Tapi, lama kelamaan aku bisa berbaur dengan mereka, kemudian aku mulai nyaman juga dengan studiku. Lagipula, buat apa aku pikirkan, toh di kampus aku hanya sebentar, di luar aku punya teman-teman yang beda karakter juga. Teman-teman UKOR Bola Volly yang profesional, asyik, dan cuek. Teman-teman Pertamina Foundation yang super, supel, dan ayik buat temen nongkrong mulai dari bahas hal sepele hingga serius. Teman-teman Pengabdian Masyarakat UI yang folksy dan hangat. Teman-teman LCC UI yang kalem-kalem, sederhana, dan ramah. Teman-teman Kos yang seru, doyan masak dan care. It means bahwa kita dibentuk di kampus melalui berbagai wadah baik organisasi akademis maupun non akademis, yang pada akhirnya secara jeneral kita relatif punya cara pandang yang sama atau minimal mirip (jika dibandingkan dengan orang lain dari latar belakang yang beda–bukan maksud untuk menilai superior dan inferior loh cuma soal cara..) terhadap satu hal.

Lulus dari kampus, aku mulai mencoba bekerja di sebuah lawfirm, tak banyak berbeda, karena kita berasal dari ‘cetakan’ yang sama. Merasa tidak cocok di lawfirm (atau memang otakku yang ngga nyambung :p ) aku pindah ke sebuah lembaga think-tank nya Indonesia sebut saja Kem PPN. Di sana, aku mulai melihat banyak karakter yang berbeda dari lingkungan dimana aku berasal, karena memang kami terdiri dari berbagai macam suku, almamater, usia, dan jenis kelamin hehe. Mulai banyak belajar, aku yang di situ merupakan junior sejunior-juniornya, belum tahu apa-apa, membuatku banyak mendapat masukan dan juga didikan dari beberapa isi kepala. Mereka atasan-atasanku mempunyai karakter, kecerdasan, dan juga gestur yang berbeda (unik tentunya). Ada yang diam, tidak suka ditanya soal pribadi juga tidak suka peduli dengan urusan pribadiku, profesional, saklek, sangat menghargai kerja kerasku, tapi melarangku untuk menerima masukan dari atasan yang lain (sebenarnya karena beliau tidak ingin aku bingung aja–mungkin). Ada yang ekspresinya selalu standar, cerdas, suka ngomong pedes, tapi perhatian dan ingin aku bisa kerja dengan baik. Ada yang pintar, peduli dengan pekerjaanku, peduli dengan urusan pribadiku, suka menasihatiku.  Intinya, semua adalah baik, mereka ingin aku maju dan berhasil, dan mereka memberikan banyak pelajaran.  Salah satu nasihat dari seorang Mbak di sana ” Catur, kalau nanti  di lingkungan kerjamu kamu merasa paling bodoh, juga banyak yang nggak suka dengan kamu, bisa jadi itu habitat terbaik untukmu, pertahankan!, yang penting jangan pernah menjadi orang lain hanya karena ingin disukai atau dianggap baik oleh orang lain.”.

Kem. PPN sekarang cukup menjadi kenangan, karena aku terpaksa harus pindah. Aku ingin melanjutkan mimpiku untuk tidak hidup di Jakarta, juga hidup di lingkungan yang nggak terlaku banyak polusi. Alhamdulillah mimpiku terwujud, satu-satunya alasan aku bekerja di sini adalah karena aku ingin (jodoh) hidup di Indonesia Timur. Konyol sih…. Tapi begitulah. Perjalanan tidak mudah, mulai dari bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih banyak jenis karakter, almamater, bahasa, suku, agama, bahkan ras. Karena kita mempunyai pola penyelesaian masalah, juga cara pandang terhadap satu hal yang beda. Tapi ya itulah tantangannya, dan aku harus lebih menghargai mereka. Nano-nano sih... ada yang pemarah, ada yang sangat lembut, ada yang sangat banyak omong, ada yang sangat pintar, ada yang sangat egois. Mungkin akupun salah satu pemilik karakter itu, egois mungkin, banyak omong mungkin, atau nyebelin ..? 🙂

Proses awal sudah terlalui dengan cukup berarti. Akhirnya, aku pindah ke lingkungan yang lebih sempit lagi. Hmm.,… makin terlihat jelas ‘cerminan diri’ ini. Aku merasa dia ini jahat dan suka menyakiti orang lain, dia ini jahat suka memfitnah, dia ini jahat suka main aman — diam-diam dan berkamuflase biar gak dibenci sama orang, dia ini jahat suka meninggalkan kewajiban, dia ini jahat suka merokok, dia ini jahat suka bohong, dia ini jahat suka menghina orang yang lebih rendah darinya, dia ini jahat suka ngomong kasar, dia ini jahat suka memakai aku untuk jadi umpannya (mancing kaliiii… kwkwk), dia itu suka deffense nggak mau diingatkan atau dikoreksi, dia itu pelit sukanya diberi, dia ini jahat karena ini itu blablabla… Itulah berbagai macam gambaran diri yang mungkin aku lihat di orang lain. Bisa saja aku menggerutu menyesali melihat semuanya, tapi sesungguhnya apa yang aku lihat atas mereka adalah bagaimana sebenarnya aku. Karena, kalau aku baik, yang lain akan terlihat baik, begitupun sebaliknya. Malangnya, aku melihat orang lain jelek, maka berarti hatikulah yang jelek, memangnya aku baik, suci, dan bebas dari semua hal buruk itu? kwkwkwk nggak mau ngaca. Justru kalau aku menanggapi, aku dendam, atau bahkan menceritakan hal itu kepada keluargaku, aku sadar bahwa aku justru bagian dari mereka. Lihat aja, sudah banyak aku merasa diri ini berubah, menjadi tempramen, terlalu berani dan menentang, dan gampang tersinggung, dan malas. Padahal, kalau aku santai, menganggap angin lalu, atau menilai dengan positif, sesungguhnya semua itu tak masalah. Ya pelan-pelan aku akan belajar, belajar memahami mereka semua. Yang jelas, sekarang aku paham bahwa bagaimana orang lain itu tergantung bagaimana diriku, bukan sebaliknya. 🙂 Selamat menyambut hidup yang lebih baik dan menyenangkan Nung..!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 28, 2017 by .
%d bloggers like this: