caturnugraheni

nothing else matter

Belajar Bijak dari Suami

IMG-20170411-WA0015Sudah empat bulan sejak hidup kami diikat dengan mitsaqan ghaliza melalui ikrar akad nikah di depan wali dan para saksi. Belum bisa menyimpulkan banyak hal tentang kehidupan pernikahan, mungkin berbeda dengan pasangan-pasangan lain yang setiap saat hidup bersama. Setelah satu minggu menikah, kami langsung berpisah. Baru sekitar tiga minggu lalu kami bisa merasakan hidup bersama, artinya empat bulan kami menjalani LDR.

Selama berjauhan, saya tak jarang mengeluh. Tapi, suami selalu mengingatkan untuk banyak bersyukur. Syukur atas keleluasaan waktu yang Allah berikan, syukur atas banyaknya waktu untuk bersama dengan teman-teman, mengerjakan kerjaan kantor sampai malam, atau melakukan hobi lainnya. Suami selalu mengambil sisi positif dari keadaan yang sedang kami alami. Toh, saat ketemu nanti kami akan lebih fresh, serasa baru pertama kali kenal, dan yang jelas kangennya akan bertumpuk dan bahagia saat ketemu nanti, katanya.

Memang benar, banyak hal yang bisa saya syukuri selama berjauhan dengan suami. Saya bisa banyak belajar masak yang enak-enak, biar bisa all out saat suami datang nanti. Jangan salah ya, kebahagiaan pernikahan akan bertambah meski sesimpel merasakan masakan istri sendiri, terlebih kalau masakannya enak. Banyak perempuan yang bilang,  “Jadi istri tidak perlu pandai memasak, emangnya suami kita mau cari pembantu?”. Ahai.. nadanya seperti nada perempuan yang sedang cari pembenaran *upst, juga seperti menyamakan perempuan yg pandai memasak itu seperti pembantu. kikikikik #nooffense ya…

Tiga minggu hidup sekamar sedapur dengan suami rasanya bermacam-macam. Tapi masih terkagum-kagum karena suami selalu menunjukkan sikap bijaknya. Selalu memuji masakan saya, memuji penampilan saya yang alakadarnnya cuek bebek, dan apapun tentang saya. Entah benar atau tidak, toh Allah ridho atas suami yang berbohong demi menyenangkan isterinya. *ceilah… Tak jarang memang suasana memanas gegara debat, karena debatnya selalu soal prinsip. Maklum, beda latar belakang pendidikan, budaya, suku, dan bahasa membuat kami terkadang kekeuh. Indahnya pernikahan, jika masing-masing segera introspeksi dan saling meminta maaf, sambil sesekali memeluk erat. 😊 #nooffense#lagi

Hal yang hanya saya dapatkan dari suami saya adalah sikap diplomatis yang ia terapkan dalam semua hal (kecuali hal prinsip yg bikin debat tadi). Suami saya tidak pernah meminta saya melakukan pekerjaan atau apapun dengan nada menyuruh /sepihak. Nada dan pilihan katanya selalu diplomatis. Contohnya, “Sayang masak ya, saya nyuci”, “Sayang  kerokin saya ya, nanti saya ganti pijitin kaki dan tangannya” atau “sayang pilih nyapu atau nyetrika?” karena ia akan  dengan senang hati melakukan pekerjaan yang tidak saya pilih. Seringkali saya merasa bersalah dan saya meminta maaf karena suami saya melakukan banyak pekerjaan rumah. Lagi-lagi jawabannya pun bikin adem, “nggak apa-apa lah sayang, kan saya juga pengen dapet surga, in syaa Allah ya…” 😊😊

Ah.. indahnya jika hal tersebut diterapkan di dunia kerja, dimana atasan akan meminta bawahan bekerja dengan pembagian tugas, bukan suruhan atau bentakan. Kebetulan, kemarin ada anak PTT di kantor curhat tentang pak X yang suka menyuruh dengan marah-marah, atau juga tidak adil memberikan pembagian kerja dengan anak yang lain. *ups keluar topik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 11, 2017 by .
%d bloggers like this: